SuaraTani.com – Medan| Menjadi ibu rumah tangga membuat Nurhasanah Nasution harus melepaskan pekerjaan sebagai seorang jurnalis, dan beralih menjadi dosen.
Padahal pekerjaan sebagai jurnalis merupakan pekerjaan yang disukai, sehingga mendorongnya menuntut ilmu di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
“Tetapi keinginan untuk mengurus rumah tangga lebih besar, sehingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sebagai reporter radio,” ujar Sanah, sapaan akrabnya.
Sanah yang tetap diperbolehkan sang suami untuk bekerja kemudian memutuskan untuk menjadi dosen. Dan UMSU yang merupakan almamaternya pun menjadi pilihan untuk berbagi ilmu.
“Dan ternyata, pengalaman 5 tahun menjadi reporter membuat aku bisa lebih mudah berbagi ilmu, karena didasarkan kepada pengalaman,” tuturnya.
Untuk itu, Sanah yang memiliki dua orang anak ini selalu berpesan kepada mahasiswi kalau perempuan bisa tangguh di lapangan sebagai wartawan.
“Wartawan perempuan, bukan modal tampang, tapi harus tangguh, pintar dan energik dan cerdas,” katanya.
Secara terpisah, sosioenterpreneur Kota Medan, Alwen Ong mengatakan keinginannya terjun ke semua bidang, karena yakin bahwa hidup itu tidak cuma untuk diri sendiri.
“Hidup itu harus bermanfaat bagi banyak orang. Dan kalau kita ingin menjadi bermanfaat bagi banyak orang harus keluar dari zona nyaman,” kata Alwen.
Alwen juga menyebutkan kalau menjadi wanita itu takdir Tuhan, tetapi menjadi manusia bermanfaat itu adalah pilihan.
“Karenanya jangan kecilkan takdir Tuhan dengan menganggap wanita gak bisa apa-apa,” tegasnya.
Alwen juga menyakini bahwa perempuan boleh memilih hanya berkutat pada ruang khusus misal sebagai ibu rumah tangga. Tetapi jangan menganggap kalau ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan remeh temeh karena ibu itu adalah peletak pondasi bagi anak-anak.
Jika ibu berpendidikan, terdidik maka anak akan berbudi pekerti, santun dan anak akan ditumbuhkan berpendidikan.
Dalam kepemimpinan wanita juga memiliki kemampuan memimpin dan lebih bernaluri keibuan sehingga penuh kasih sayang.
“Telah banyak wanita jadi pemimpin negeri, selama berkeinginan belajar tuk memimpin maka semua bisa jadi pemimpin,” pungkasnya. *(ika)


