Tim medis dari BBKSDA Sumut melakukan nekropsi terhadap bangkai gajah yanng ditemukan membusuk di areal perkebunan warga di Dusun Aras Napal Kanan,Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Rabu (13/4/2022).suaratani.com-ist SuaraTani.com – Medan| Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut) menyebutkan, hasil nekropsi yang dilakukan terhadap bangkai gajah Sumatera (Elephasmaximus Sumatrae) yang ditemukan membusuk di area perkebunan jeruk milik masyarakat di Dusun Aras Napal Kanan,Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat menyatakan bahwa gajah yang diketahui berjenis kelamin betina tewas setelah berkelahi dengan gajah jantan.
Pelaksana tugas Kepala BBKSDA Sumut, Irzal Azhar, mengatakan, dari hasil nekprosi yang dilakukan tim medis BBKSDA dibantu Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL-OIC) diketahui data awal penyebab kematian gajah akibat kehabisan darah dan luka organ dalam akibat tusukan benda
tumpul di bagian dada dan perut. Bekas tusukan identik dengan bekas tusukan gading jantan dewasa.
“Kita memperkirakan, gajah betina didatangi oleh gajah jantan yang sedang masa musth kemudian menyerang dan memaksa untuk kawin, namun gajah betina yang tidak dalam periode estrus atau belum siap untuk kawin melakukan perlawanan sehingga akhirnya menyebabkan kematian gajah betina,” ujar Irzal dalam keterangan tertulisnya, Jumat (15/4/2022).
Dikatakannya, tempat kejadian merupakan perladangan yang berjarak 20 meter dari jalan lintas desa menuju Dusun Aras Napal,dan berjarak 140 meter dari kawasan TN Gunung Leuser. Terdapat alur sungai yang menjadi batas alam antara TN Gunung Leuser dengan Hutan Produksi Terbatas (HPT).
“Alur sungai tersebut menjadi jalur gajah untuk keluar masuk ke areal perladangan masyarakat yang berada di dalam HPT,” sebut Irzal.
Dari hasil nekropsi menurut Irzal juga ditemukan jika ada upaya masyarakat mengambil caling atau gigi pada gajah yang menonjol dan berevolusi. Bentuknya lebih kecil dari gading, dan hanya ada di gajah betina.
“Hal ini bisa dibuktikan dari adanya bekas pemotongan menggunakan yang dilakukan secara terburu-buru, sehingga sebagian besar masih tertinggal pada ototnya. Sedangkan caling sebelah kanan masih berada utuh di tubuh gajah,” terangnya.
Selain menemukan satu ekor bangkai gajah, tim BKSDA Sumut menurut Irzal juga mendapat informasi dari masyarakat tentang bangkai gajah lainnya.
Petugas Resort KSDA Aras Napal 242 melakukan pengecekan ke lokasi dan menemukan kerangka gajah yang sudah membusuk. Kondisi tinggal tulang belulang yang berceceran, terdapatj uga sisa-sisa bangkai yang sudah mencair. Kondisi tulang belulang pun tidak lengkap, dan diperkirakan sudah mati lebih dari 6 bulan.
“Hasil ploting koordinat,posisi kerangka gajah berada di areal 242 Aras Napal dan berjarak 140 meter dari hutan TN Gunung Leuser. Sedangkan jarak lurus posisi kedua bangkai gajah ini sejauh 1,4 kilometer,” tambahnya.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dari masyarakat sekitar dan dari petugas Resort Aras Napal 242,disekitar lokasi sering terlihat gajah jantan soliter yang cukup besar.
Ciri khas gajah ini,ekor terpotong sehingga dinamai dengan gajah sibuntung. Ada juga yang menamainya dengan gajah Sukro.
Diduga gajah inilah yang dominan di sekitar lokasi dan sering menyerang serta memaksa gajah betina untuk kawin. *(ika)

