Grafik emiten di bursa efek. Di akhir pekan, kinerja IHSG dan rupiah secara kompak mengalami penguatan, setelah sempat tertekan.suaratani.com-dokSementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1.32% di level 6.740,22. Penguatan IHSG mengikuti penguatan di sejumlah bursa di asia maupun global, dimana pelaku pasar masih menaruh harapan akan pemulihan data ekonomi AS di minggu depan, yang setidaknya bisa mengurangi tekanan pada pasar keuangan global seiring dengan tingginya laju tekanan inflasi belakangan ini.
Analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin mengatakan, di akhir pekan ini, setidaknya ada sejumlah kejutan yang pada dasarnya cukup potensial menimbulkan fluktuasi pada pasar keuangan.
Salah satu yang menjadi fokus pasar adalah pengunduran diri PM Inggris Boris Johnson yang justru direspon dengan penguatan kinerja bursa di Inggris.
“Dan satu lagi yang terbaru, penembakan terhadap mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe. Namun bursa di Nikkei sejauh ini masih berada di zona hijau, “ ujar Gunawan Benjamin di Medan, Jumat (8/7/2022).
Dikatakan Gunawan, mundurnya PM Inggris dan insiden penembakan PM Jepang pada dasarnya dinilai sebagai ketidakstabilan politik yang berpotensi mengganggu aktifitas ekonomi dunia, terlebih ketidakstabilan tersebut justru terjadi disaat kondisi ekonomi global terancam resesi, ada inflasi tinggi, hingga tensi geopolitik yang masih panas.
Terlebih lagi jika ketidakstabilan politik justru terjadi di Negara dengan ekonomi besar. Jika memburuk dan mengganggu aktifitas ekonomi. Masalah tersebut sangat potensial memberikan tekanan pada perekonomian nasional. Apalagi Jepang dan Inggris ini juga mitra dagang strategis Indonesia.
“Tetapi sejauh ini IHSG dan Rupiah tidak terpengaruh terhadap dua kejadian tersebut,” sebutnya.
Di sisi lain, harga emas dunia yang dalam sepekan terjungkal, masih terus bertahan melemag. Emas yang sempat diperdagangkan di level US$1.800-an per ons troy akhir pekan lalu, saat ini harganya justru terpuruk dikisaran US$1.736 per ons troynya.
Isu kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS di bulan ini perlu diwaspadai, mengingat bunga acuan US Dolar yang naik berpotensi memicu tekanan pada harga emas. Sejauh ini logam mulia tersebut ditransaksikan di level Rp837 ribuan per gram. *(ika)

