Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Banyak Rilis Data Penting, Ancaman Resesi Masih Bayangi Pasar Keuangan

Kinerja IHSG di bursa efek. Di pekan ini, pasar keuangan masih mengalami tekanan dari berbagai faktor.suaratani.com-ist

SuaraTani.com – Medan| Awal pekan ini ada banyak sentimen pasar yang layak dicermati oleh pelaku pasar. Salah satu yang paling dinanti pelaku pasar adalah rilis data inflasi di Amerika Serikat yang diperkirakan secara tahunan masih akan mengalami kenaikan sebesar 8.8%, dari posisi bulan Mei yang berada di level 8.6%. 

Data tersebut akan menjadi tolak ukur bagi pelaku pasar dalam menilai kemungkinan besaran suku bunga acuan yang akan dinaikkan oleh The FED atau Bank Sentral AS dalam waktu dekat.

Selain dari Amerika Serikat, ada juga data dari Inggris yakni pertumbuhan ekonomi Inggris yang diperkirakan melemah baik secara triwulanan maupun secara tahunan. Dan banyak lagi data dari sejumlah negara besar lainnya seperti Jepang maupun dari China. Untuk data dari China yang layak dicermati adalah pertumbuhan ekonominya.

“Sejauh ini ancaman resesi masih terus menghantui pelaku pasar, dimana AS yang akan menjadi motor penggerak utama. Namun indikasi resesi yang kian kuat terus terlihat seiring dengan rencana Bank Sentral AS yang masih akan tetap agresif dalam menaikkan besaran bunga acuannya,” ujar analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, Senin (11/7/2022).

Selain sejumlah data eksternal tersebut, kata Gunawan dari tanah air pelaku pasar akan disajikan data neraca berjalan, dimana diperkirakan impor akan tumbuh lebih besar dari ekspor secara presentase. 

Neraca berjalan ini yang nantinya akan menentukan arah pergerakan rupiah. Dan dari sejumlah data penting tersebut bagaimana nantinya pergerakan IHSG maupun rupiah.

Secara keseluruhan, potensi tekanan pada pasar keuangan masih akan berlanjut dalam sepekan kedepan. Rupiah masih berpeluang diperdagangkan di level psikologis 15 ribu per US Dolar, karena sejauh ini rupiah masih bertahan dikisaran 14.975 per US Dolarnya. Cukup berpeluang rupiah tertekan dan mencoba menembus level psikologis tersebut.

Sementara IHSG berpeluang untuk kembali menguji level 6.600. IHSG masih berpeluang turun karena sentimen global masih tidak begitu mendukung penguatan kinerja pasar saham.

“Dan di sisi lainnya ada beberapa ancaman tekanan seiring buramnya ekspektasi kinerja ekonomi global kedepan,” pungkasnya. *(ika)