Pedagang menyiapkan pesanan pembeli. Cuaca yang terus berubah membuat harga cabai merah berfluktuasi tetapi sulit untuk turun.suaratani.com-dokSuaraTani.com – Medan| Cuaca yang kurang bersahabat belakangan ini di wilayah Sumatera Utara (Sumut), seperti curah hujan yang tidak seperti biasanya, ditambah dengan intensitas hujan yang cukup tinggi, telah memaksa sejumlah harga kebutuhan pangan masyarakat bertahan mahal. Secara poin to poin, cabai merah yang pada akhir pekan lalu sempat dikisaran 90 ribu hingga 100 ribu per Kg, saat ini berada dikisaran sama Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram (kg).
Harga ini menurut Ketua Tim Pemantau Harga Sumatera Utara (Sumut) Tidak banyak mengalami perubahan, padahal di pekan ini harga cabai merah sempat turun di kisaran Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per kg. Dalam seminggu terakhir cabai merah berfluktuasi cukup tinggi seiring dengan perubahan cuaca itu sendiri. Dan harga cabai merah kerap naik saat hujan melanda sejumlah sentra produksi cabai di wilayah Kabupaten Karo dan sekitarnya atau Sumut pada umumnya.
Sementara itu, harga cabai rawit hijau turun sekitar 14%. Disisi lain, harga daging ayam secara rata rata di Sumut mengalami kenaikan sekitar 4.5%. Namun untuk wilayah Medan sendiri, harga daging ayamnya naik sekitar 16% dalam sepekan terakhir. Dari kisaran Rp29 ribu per kg menjadi Rp34 ribu per kg.
“Telur ayam yang mengalami kenaikan cukup tinggi di wilayah lain khsuusnya di luar Sumut, namun saat jika ditarik data selama sepekan terakhir, kenaikan harga telur ayam di Sumut itu sangat kecil sekali, sekitar 2%-an saja. Dan di Kota Medan kenaikannya sekitar 0.8%. Akan tetapi di tingkat pedagang di bawah pedagang pengecer (kedai sampah) yang menjual per butir, kenaikan harga telurnya mencapai Rp100 hingga Rp200 per butir,” kata Gunawan di Medan, Jumat (26/8/2022).
Harga telur ayam itu dijual di angka yang memungkinkan pedagang tidak terlalu repot untuk memberikan uang pecahan kembalian. Harga telur ayam itu umumnya dibandrol dengan harga Rp1.500, Rp1.600, Rp1.800 dan Rp2.000 per butirnya.
“Saya menduga pedagang menaikkan harga yang dibulatkan, bukan menaikkan harga sesuai dengan angka kenaikan yang ideal,” ujarnya.
Terkait dengan cuaca itu sendiri, Gunawan menilai sekalipun harga beberapa komoditas pangan sulit untuk turun, khususnya untuk tanaman pangan hortikultura. Akan tetapi ada masanya nanti petani terpaksa memanen tanamannya untuk menghindari pembusukan tanaman itu sendiri.
Akan tetapi untuk komoditas sumber protein, seperti daging ayam. Ini terjadi penurunan stok yag mengakibatkan kenaikan harga. Dan penurunan stok ini dipicu oleh harga jual ayam yang dinilai merugikan sejumlah peternak sebelumnya. Sehingga mereka terpaksa mengurangi stoknya.
“Untuk harga pangan di luar yang saya sebutkan sebelumnya, semua masih terpantau bergerak stabil,” pungkasnya. *(ika)

