Kepala BI Sumut, Doddy Zulverdi didampingi dua deputi kepala BI Sumut saat mengisi kegiatan BBM yang digelar secara hybrid, Selasa (6/9/2022).suaratani.com-istSuaraTani.com – Medan| Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sumatera Utara (Sumut) mendorong Pemerintah Provinsi Sumut untuk mengoptimalkan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menjaga kestabilan harga komoditas pangan strategis sesuai SE Mendagri No.500/4825/Sj, seperti subsidi biaya transportasi produk pangan strategis.
Hal ini menurut Deputi Kepala BI Sumut, Ibrahim sebagai bagian dari upaya untuk menekan laju inflasi sebagai dampak kenaikan harga BBM bersubsidi pada 3 September 2022 lalu. Karena kenaikan harga BBM diyakini akan mendorong kenaikan harga komoditas.
“Subsidi biaya transportasi ini kita harapkan bisa dilakukan segera, meski memang tergantung ketersediaan anggaran di masing-masing Pemda,” ujar Ibrahim saat kegiatan Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar secara hybrid, Selasa (6/9/2022).
Sejauh ini kata Ibrahim, pihaknya belum mengetahui secara detil bentuk program apa yang akan dijalankan Pemerintah Provinsi Sumut dalam penggunaan BTT untuk mekan laju inflasi.
“Karena memang hal ini masih terus kita bahas,” kata Ibrahim.
Sebelumnya pada kegiatan tersebut, Kepala BI Sumut, Doddy Zulverdi, mengatakan, selain memberikan subsidi biaya transportasi produk pangan strategis, penguatan produksi, meningkatkan efisiensi distribusi, mengurangi lebih banyak rantai distribusi dan mengurangi penggunaan pupuk impor dan memperbanyak memakai pupuk organik juga menjadi cara untuk menekan inflasi di Sumut.
“Termasuk mengatur pola tanam sehingga tidak tergantung dalam satu periode. Dan ini sudah direkomendasikan ke Pemprov,” kata Doddy.
Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong penguatan Satgas Pangan untuk menghindari penimbunan bahan pokok pasca kenaikan harga BBM dan juga mendorong penguatan peran BUMD untuk menyerap hasil produksi saat produksi melimpah sehingga harga tidak jatuh dan menyalurkan hasil produksi saat pasarkekurangan pasokan.
“Sedangkan untuk pola konsumsi masyarakat, kami sedang mencari cara bagaimana agar pola konsumsi dibuat lebih fleksibel. Di mana masyarakat dorong untuk menggunakan produk olahan saat produk segar lagi terbatas,” ucapnya.
Untuk jangka menengah dan panjang, tambahnya, dari sisi produksi maka petani didorong untuk meningkatkan produktivitas komoditas pangan strategis melalui adopsi teknologi digital farming.
Selain itu, pemerintah juga didorong untuk menyalurkan bantuan berupa saprodi, alsintan, perbaikan infrastruktur pertanian, program penyuluh pertanian, pelatihan kepada petani, serta penguatan produksi bibit unggul. 7.
“Termasuk penyusunan neraca pangan daerah untuk mengetahui perkembangan surplus defisit komoditas pangan strategis, dan optimalisasi peran BUMDes sebagai offtaker produk dari petani,” tambahnya.
Sementara dari sisi distribusi, pemerintah daerah didorong untuk melaksanakan pasar lelang konvensional maupun digital di daerah sentra produksi, membangun atau menyediakan sarana penyimpanan seperti, Cold Storage dan Controlled Atmosphere Storage. Kemudian membangun model bisnis Closed Loop (model kemitraan agribisnis hulu-hilir dalam ekosistem yang berbasis digital) hortikultura untuk memperpendek jalur rantai pasok.
“Sedangkan dari sisi konsumsi, kami mendorong agar dilakukan pengembangan industri cabai dan bawang olahan sebagai produk tahan lama dengan harga yang lebih stabil,” katanya.
Sejauh ini tambahnya, Indonesia termasuk Sumut masih dalam fase bertumbuh mesk inflasi tahun berjalan sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan di kisaran 3%. Ini yang membedakan dari negara lain yang berada di tahap stagflasi dan bahkan menjurus ke resesi.
“Hal ini yang harus kita jaga terus,” pungkasnya. *(ika)

