Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Triwulan III, Pertumbuhan Ekonomi Sumut Berpotensi Termoderasi Inflasi

Kepala BI Perwakilan Sumut, Doddy Zulverdi dalam Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar secara hybrid, Selasa (25/10/2022).suaratani.com-ist

SuaraTani.com – Medan| Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Sumut di triwulan III tahun 2022 berada di rentang 4,1-4,9%. 

“Proyeksi ini mengalami perlambatan dibandingkan triwulan II yang kita proyeksikan di rentang 4,3-5,1% dengan realisasi di angka 4,70%, ” ujar Kepala BI Perwakilan Sumut, Doddy Zulverdi dalam Bincang Bareng Media (BBM) yang digelar secara hybrid, Selasa (25/10/2022).

Perlambatan ini menurut Doddy dikarenakan pada triwulan III tidak ada perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti di triwulan II yang ada perayaan Idulfitri.

“Tetapi kita tetap terbantu dengan konsumsi masyarakat yang tinggi dan ditopang belanja pemerintah di sisi pengeluaran, sementara di sisi lapangan usaha terbantu sektor perdagangan, pertanian mau pun perkebunan,” sebutnya. 

Hanya saja kata Doddy, pertumbuhan ekonomi ini akan termoderasi inflasi yang cukup tinggi, sehingga konsumsi masyarakat yang tinggi itu tergerus oleh infllasi. 

“Karena adanya kenaikan harga, sehingga konsumsi masyarakat yang tinggi juga tidak terlalu terlihat,” kata Doddy yang pada kesempatan itu didampingi Deputi Kepala BI Sumut, Azka Subhan, dan Kepala Divisi Implementasi Kebijakan BI Sumut, Poltak Sitanggang. 

Sementara menyangkut inflasi, Doddy menjelaskan ada peluang inflasi di bulan Oktober lebih rendah dibandingkan September 2022, seiring dengan volatile food yang biasanya menjadi penyumbang inflasi justru diperkirakan masih akan mengalami ddeflasi.

“Karena di saat sekarang ini, komoditi yang masuk dalam klasifikasi volatile food seperti cabai merah dan bawang merah sedang memasuki masa panen raya sehingga harga mengalami penurunan karena pasokan yang melimpah,” tambahnya. 

Tetapi  Bank Indonesia menurut Doddy tetap meminta agar pemerintah daerah mewaspadai prakiraan tingkat curah hujan yang masih cukup tinggi sehingga berpotensi mengganggu produksi beberapa komoditas pangan, disamping masih berlanjutnya dampak penyesuaian harga BBM subsidi terhadap kenaikan biaya hidup dan biaya angkut.

“Termasuk juga mewaspadai tingginya harga gabah baik di tingkat petani mau pun penggilingan yang dapat mendoroong kenaikan harga beras,” pungkasnya. *(ika)