Pedagang menyiapkan barang dagangannya. Di bulan Oktober Sumut mengalami deflasi sebesar 0,51%.suaratani.com-istSuaraTanani.com – Medan| Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan Pemerintah pada 3 September lalu, ternyata hingga saat ini belum terlihat memberikan andil yang cukup besar terhadap inflasi bulanan Sumatera Utara (Sumut).
Padahal jika merunut kenaikan harga BBM yang tercatar sekitar 30%, maka hitung-hitungan ekonomi dari kenaikan harga BBM bersubsidi itu paling besar akan menyumbang inflasi hingga mencapai 1.8%.
Dan Inflasi akan berlangsung setidaknya dalam kurun waktu 2 sampai 3 bulan setelah harga BBM dinaikkan.
Namun fakta menunjukan di lapangan bahwa inflasi hanya terjadi di bulan yang sama saat harga BBM dinaikan yakni bulan September, sementara di bulan Oktober kemarin, Sumut justru mencetak deflasi sebesar 0.51%, sedangkan nasional mencatatkan deflasi sebesar 0.11%.
“Jadi hitungan terburuk dari kenaikan harga BBM terhadap inflasi tidak terjadi,” ujar pemerhati ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, di Medan, Selasa (1/11/2022).
Memang kata Gunawan, pada saat harga BBM dinaikkan, sejumlah harga kebutuhan pangan masyarakat itu masih ada yang kemahalan.
Contohnya untuk komoditas cabai, meskipun sejak Agustus harga cabai perlahan menunjukan penurunan, dan bahkan di bulan September sejumlah komoditas pangan masih menyumbangkan deflasi.
Penyesuaian turun harga BBM Non Subsidi di bulan Oktober menjadi salah satu pemicu terjadinya deflasi di Oktober. Di sisi lain, penurunan tajam pada harga komoditas pangan khususnya cabai menggiring terciptanya deflasi secara nasional..
Hal ini membuat realisasi inflasi di Sumut selama tahun berjalan atau year to date anjlok menjadi 4.69%.
“Saya sempat memperkirakan jika harga BBM naik, makan inflasi di Sumut akan berada dalam rentang 5.7% hingga 6.4%. Namun inflasi di Sumut sangat berpeluang berakhir di angka 5% hingga 5.2% pada akhir tahun 2022 nanti,” ucapnya.
Hanya saja lanjut pria berkacamata ini, ancaman inflasi tinggi belum usai, karena masih tengah berhadapan dengan potensi kenaikan harga enerji maupun harga pangan yang banyak dipicu oleh gejolak eksternal. Salah satunya adalah masalah geopolitik dan belum berakhirnya pandemi Covid-19.
“Saya melihat laju tekanan inflasi hingga tutup tahun akan terkendali. Dan saya juga tidak melihat adanya potensi lonjakan inflasi yang signifikan saat perayaan natal dan tahun baru nantinya. Khususnya jika membandingkan realisasi inflasi menjelang akhir tahun saat masa sebelum pandemi Covid-19 terjadi,” pungkasnya. *(ika

