Kunjungan ini menjadi upaya perusahaan untuk menjalin komunikasi dan mengamankan pasokan bahan baku pupuk yang tidak dapat terpenuhi dari dalam negeri.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, menyampaikan, sebagai produsen pupuk dan bahan kimia terlengkap di Indonesia, serta penghasil NPK terbesar di Asia Tenggara, bahan baku yang dibutuhkan masih belum dapat terpenuhi dari dalam negeri.
Untuk itu, ia menegaskan Petrokimia Gresik terus membangun komunikasi dengan negara-negara penyuplai bahan baku agar pasokan aman.
"Kami akan banyak membangun komunikasi dengan berbagai negara. Contohnya, kita selama ini sudah memperoleh suplai potasium dari Kanada, Rusia, Belarusia dan Yordania. Tapi kami juga menjajaki kerja sama dengan negara penghasil potasium lainnya seperti Laos, sehingga suplai bahan baku untuk menjaga ketahanan pangan nasional aman. Begitu juga dengan negara-negara Timur Tengah," ujar Dwi Satriyo, dalam keterangan tertulis, Kamis (9/3/2023).
Adapun bahan baku pupuk produksi Petrokimia Gresik yang selama ini masih membutuhkan dukungan negara lain antara lain KCl, DAP, Phosphate Rock, Ammonium Sulphate, Sulphuric Acid, Phosphoric Acid, Sulphur dan beberapa lainnya.
"Petrokimia Gresik banyak melakukan pengembangan, seperti rencana membangun Pabrik Phonska V untuk menambah kapasitas produksi NPK, serta proyek pengembangan lainnya. Untuk itu kebutuhan bahan baku juga akan semakin meningkat," ujarnya.
Dwi Satriyo menambahkan, Duta Besar 4 negara yang berkunjung ke Petrokimia Gresik yaitu Maroko, Yordania, Tunisia, dan Uni Emirat Arab (UEA).
"Kita akan menjajaki kerja sama dengan berbagai model. Selain melakukan inovasi substitusi bahan baku, Petrokimia Gresik juga mencoba mengkaji skema kerja sama mendirikan pabrik di luar negeri untuk mendekat ke bahan baku," tandasnya.
Dwi Satriyo juga menyampaikan terima kasih atas dukungan yang diberikan Pupuk Indonesia. Komunikasi yang baik dengan negara-negara penyuplai bahan baku juga tidak lepas dari dukungan Pupuk Indonesia, sehingga Petrokimia Gresik lancar dalam menjaga amanah menyalurkan pupuk bersubsidi ke berbagai daerah di Indonesia serta dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional.
Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman, yang turut hadir dalam kunjungan tersebut menyampaikan bahwa, selama ini Pupuk Indonesia dan anggota holdingnya telah melakukan kerja sama dengan 4 negara tersebut, melalui kunjungan ini tidak menutup kemungkinan akan menjalin kerja sama lain.
"Kebutuhan pertanian Indonesia sekarang adalah pupuk NPK. Jika harganya kompetitif, bisa jadi kita impor NPK dari Maroko, Tunisia, atau Yordania. Karena kapasitas produksi pabrik NPK yang dimiliki Pupuk Indonesia hanya 3,5 juta ton dalam setahun, sedangkan kebutuhan petani Indonesia sekarang mencapai 6 juta ton setiap tahunnya dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional," ujar Bakir.
Ia menambahkan, di momen ini Pupuk Indonesia bersama Petrokimia Gresik mengajak para Duta Besar untuk melihat langsung kondisi di lapangan, berapa pentingnya suplai bahan baku dari negara mereka untuk pertanian di Tanah Air.
Dalam kunjungan tersebut, seluruh Duta Besar yang hadir mengikuti kegiatan diskusi sampai dengan turun ke lahan panen kentang dan padi.
Kegiatan ini menjadi pengetahuan dan pengalaman baru yang langsung dapat dirasakan oleh keempat Duta Besar tersebut. *(junita sianturi)

