Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, beserta jajaran dan pelaku IKM pada temu bisnis dalam rangka fasilitasi kemitraan IKM logam dengan industri besar di Solo.suaratani.com-Kemenperin SuaraTani.com - Surakarta| Kementerian Perindustrian terus meningkatkan daya saing industri kecil dan menengah (IKM) logam melalui fasilitasi kemitraan dengan industri besar.
Fasilitasi kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat peran strategis IKM dalam upaya mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi, stabilitas sosial, dan pengembangan sektor swasta yang dinamis.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan Kemenperin aktif memacu agar IKM kita bisa naik kelas dan menjadi bagian dari rantai pasok industri besar.
"Hal itu untuk memaksimalkan kontribusi output IKM terhadap industri dan perekonomian daerah maupun nasional,”kata Reni, di Surakarta, Jumat (7/7/2023).
Reni mengungkapkan, Ditjen IKMA secara rutin memfasilitasi kemitraan IKM dengan industri besar untuk membangun pelaku IKM yang produktif dan berdaya saing.
Sebab, melalui kemitraan ini, IKM juga dapat memperoleh kepastian pasar dan pasokan bahan baku.
Selain itu, kemitraan dapat memacu IKM agar memiliki tanggung jawab dalam melakukan perbaikan kualitas dan kuantitas secara berkelanjutan.
"Penerapan sistem manajemen, peningkatan SDM, akses informasi, teknologi, perizinan dan hal lainnya sesuai dengan permintaan dari mitranya,” tuturnya.
Guna mencapai sasaran tersebut, Ditjen IKMA menggelar temu bisnis dalam rangka fasilitasi kemitraan IKM logam dengan industri besar di Solo Raya.
Pada kegiatan ini, Ditjen IKMA bersinergi dengan Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kota Surakarta, Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA), serta Kamar Dagang Industri Kota Surakarta.
Adapun perusahaan yang terlibat, antara lain PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia, PT. Yogya Presisi Teknikatama Industri, ATMI Group, PT. Perkebunan Nusantara III (Holding).
Kemudian, PT. Pupuk Indonesia (Persero), PT. Indospring Tbk, PT. Indoprima Gemilang Engineering, dan CV. Julang Marching Pratama.
Kegiatan Temu Bisnis ini diikuti sebanyak 44 orang peserta dari 22 IKM logam di Solo Raya, yang bergerak di bidang industri fabrikasi mechanical part, sparepart, precision part, mould, dies, pattern automasi dan permesinan.
“Temu bisnis ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Kemenkop UKM, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian BUMN tentang Kemitraan Koperasi, UMKM/IKM dalam rantai pasok BUMN,” paparnya.
Tercatat sejak 2018, Ditjen IKMA telah memfasilitasi kemitraan 18 IKM logam dan mesin dengan 11 industri besar, baik itu perusahaan BUMN maupun swasta.
Ruang lingkup antara lain penyediaan alat perkakas pertanian dan perkebunan, penyediaan produk casting pump, penyediaan komponen alat kesehatan, penyediaan bahan baku, penyediaan komponen alat berat serta penyediaan jasa perbaikan dan part mechanical.
“Kesempatan ini menjadi saat yang tepat bagi IKM untuk mengetahui jenis dan spesifikasi komponen yang bisa disuplai, rencana kebutuhan pengadaan di industri besar, persyaratan standar, serta prosedur procurement dari perusahaan BUMN sehingga kemudian dapat menjadi bagian dari rantai pasok BUMN,” tegas Reni.
Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika dan Alat Angkut Ditjen IKMA Kemenperin, Dini Hanggandari berharap fasilitasi kemitraan IKM dengan industri besar dapat mendongkrak kontribusi IKM dalam proses pengadaan industri besar.
“Agar pengadaaan barang dan jasa nantinya didominasi oleh produk-produk dalam negeri, bahkan dapat menggantikan produk impor,” ujar Dini. *(jasmin)

