Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Inflasi AS Menghantui, Nilai Tukar Rupiah Terus Tertekan

Seorang warga menunjukkan uang kertas rupiah pecahan kecil. Di pekan ini, kinerja rupiah terancam terus tertekan jika data inflasi AS tidak menunjukkan adanya perbaikan.suaratani.com-dok

SuaraTani.com Medan| Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperdagangkan di zona merah dalam 2 hari perdagangan terakhir, meskipun pada hari ini, IHSG mampu ditutup naik tipis 0.02% di level 6.935,48. 

Kinerja IHSG melemah seiring dengan kekhawatiran pelaku pasar menyusul rilis data inflasi AS hari ini. Data inflasi menjadi sangat krusial, mengingat data tersbeut akan digunakan sebagai ekspektasi apakah The FED akan menaikkan bunga atau menghentikannya.

Analis Keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menyebutkan, hanya  data inflasi AS itu yang dinanti pelaku pasar sejauh ini. 

Dan seiring dengan rilis data inflasi tersebut, mayoritas bursa di Asia juga ditutup di zona merah pada hari ini. 

“Sementara sejumlah bursa di Eropa juga dibuka melemah seiring dengan pelaku pasar yang masih mengkhawatirkan bahwa inflasi di AS akan tetap naik nantinya,” ujar Gunawan di Medan, Rabu (13/9/2023).

Di sisi lain kata Gunawan, ekspektasi pasar terkait kemungkinan sikap hawkish Bank Sentral AS, menyebabkan mata uang rupiah pada pekan ini juga kembali mengalami tekanan. 

Mata uang rupiah melemah dikisaran 15.365 per dolar AS. Dan mata uang rupiah tengah bergerak menuju 15.400 pada hari ini. 

Dan potensi pelemahan rupiah dalam waktu dekat berpeluang terjadi jika dolar AS mendapatkan kekuatan untuk menguat lebih jauh, kalau suku bunga acuannya berpeluang mengalami kenaikan.

“Yang dikhawatirkan pelaku pasar sejauh ini adalah bukan dikarenakan seberapa besar The FED nantinya akan menaikkan bunga, namun yang lebih krusial yang dikuatirkan adalah jika inflasi tidak kunjung mereda. Maka potensi kenaikan bunga acuan akan terus terjadi, dan bisa saja kenaikan bunga acuan selanjutnya juga belum tentu akan meredam laju tekanan inflasi,” terangnya.

Jadi satu satunya maslah yang mendasar saat ini, dan membuat kondisi pasar keuangan sulit untuk menguat adalah inflasi. 

Bagi negara lain termasuk Indonesia, kenaikan bung aacuan di AS juga berpeluang memicu terjadinya kenaikan laju tekanan inflasi di tanah air. Beberapa kebutuhan impor tanah air massih harus dibayar dengan dolar AS.

Dan jika mata uang rupiah melemah, maka barang barang impor yang jadi kebutuhan penggerak ekonomi berpotensi mengalami kenaikan. 

“Dan ancaman inflasi di AS juga telah menekan harga emas selama pekan ini. Harga emas ditransaksikan melemah dikisaran US$1.911 per ons troy, atau sekitar 947 ribu per gramnya,” pungkasnya. *(ika)