Grafik pergerakan emiten. Di awal pekan, IHSG mampu ditutup menguat meski masih terbatas dan tidak mampu beranjak jauh dari posisi penutupan di akhir pekan kemarin.suaratani.com-istSuaraTani.com – Medan| Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan ditutup menguat 0.46% atau naik 29.05 poin di level 6.838,31.
Minimnya sentimen pasar keuangan di awal pekan membuat kinerja indeks bursa saham di tanah air menguat terbatas, serta tidak mampu beranjak jauh dari posisi penutupan di akhir pekan kemarin.
Analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan, pelaku pasar masih mengambil sikap wait and see jelang rilis data inflasi AS pada perdagangan besok.
Jika inflasi AS mengalami penurunan, maka data inflasi tersebut akan menjadi kabar baik bagi pasar saham. Namun situasi bisa menjadi petaka jika inflasi yang dirilis nantinya lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
“Jadi pasar saham diperkirakan masih akan bergerak volatile sepekan ini,” kata Gunawan di Medan, Senin (13/11/2023).
Berbeda dengan kinerja indeks bursa saham, ucap Gunawan, mata uang rupiah ditransaksikan melemah pada perdagangan hari ini.
Mata uang Rupiah bahkan menyentuh level 15.715, meskipun rupiah berbalik arah dan mampu mengurangi kerugiannya di level 15.695 per dolar AS saat penutupan.
Selain itu, membaiknya kinerja mata uang rupiah jelang penutupan perdagangan juga tidak terlepas dari melemahnya imbal hasil US Treasury.
Sementara itu, harga emas juga relatif tidak mengalami perubahan yang besar selama perdagangan hari ini. Harga emas ditransaksikan dikisaran level $1.939 per ons troy pada perdagangan sore.
Nyaris tidak berubah dibandingkan dengan perdagangan pagi hari, dimana harga emas ditransaksikan dikisaran US$1.940.
“Pelaku pasar juga masih menunggu data inflasi AS serta hasil pertemuan antara Xi Jinping dan Joe Biden,” terangnya.
Secara keseluruhan lanjut Gunawan, baik IHSG, rupiah dan harga emas bergerak mendatar selama sesi perdagangan hari ini.
Kekhawatiran akan kejutan yang sifatnya tak terduga diantisipasi dengan sikap wait and see pelaku pasar.
“Dan untuk kinerja pasar keuangan domestik masih akan lebih banyak dimotori oleh dinamika eksternal yang berkembang selama sepekan kedepan,” pungkasnya. *(ika)

