Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Ratusan Hektare Tanaman Padi di Sumut Terdampak Banjir

Keadaan tanaman padi yang terendam banjir di Desa MuarataisI, Kecamatan Angkola Muaratais, Kabupaten Tapanuli Selatan, 26 Noveber 2025. foto: ist

SuaraTani.com - Medan| Bencana alam banjir yang terjadi di Sumatera Utara (Sumut) telah menimbulkan kerusakan pada tanaman pangan khususnya tanaman padi dan jagung.

Adapun data yang diperoleh SuaraTani.com, dari UPTD Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura (TPH) dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut, kerusakan tanaman padi akibat banjir mencapai 429,4 hektare. 

Sementara tanaman jagung yang terdampak banjir seluas 15 hektare yang berada di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) khususnya di Kecamatan Siabu seluas 14 hektare.

Sedangkan di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) tepatnya di Kecamatan Angkola Muaratais seluas satu hektare.

"Untuk jagung sejauh ini tidak ada yang mengalami kegagalan panen ataupun puso. Data ini merupakan pelaporan tanggal 25-26 November 2025," kata Kepala UPTD Perlindungan TPH dan Pengawasan Mutu Keamanan Pangan Sumut, Marino, Jumat (28/11/2025) di Medan.

Untuk tanaman padi, lanjut Marino, merupakan tanaman pangan yang paling banyak terdampak banjir, yakni 317,4 hektare, di Kabupaten Madina khususnya di Kecamatan Siabu dan Ranto Baek.

Kemudian di Kabupaten Tapsel khususnya di Kecamatan Batang Angkola, Sayur Matinggi, Tantom Angkola dan Kecamatan Angkola Muaratais. 

"Total tanaman padi yang terdampak banjir di Kabupaten Tapsel ini jumlahnya mencapai 49 hektare dari luas tanam 198 hektare. Data ini merupakan pelaporan tanggal 25-26 November 2025," teranag Marino.

Sementara di Kabupaten Deliserdang berdasarkan laporan yang masuk tanggal 20 November 2025, tanaman padi yang terdampak seluas 63 hektare yang berada di Kecamatan Tanjungmorawa.

"Sama seperti tanaman jagung, untuk padi juga tidak ada yang puso," kata Marino.

Marino mengatakan, sejumlah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Dinas Ketapang TPH Sumut antara lain, mengintruksikan kepada seluruh petugas Lapang Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) untuk melakukan pendataan ke seluruh areal pertanaman yang terkena banjir.

Kedua, mengajak para petani membersihkan parit-parit yang dipenuhi dengan sampah-sampah yang tujuannnya adalah agar air cepat mengalir.

Ketiga, mendirikan posko-posko baik di tingkat desa maupun kecamatan. 

"Dan, langkah terakhir adalah melaporkan secara cepat melalui grup WA terkait dampak banjir," kata Marino.

Terkait dampak banjir bandang dan longsor yang terjadi Tapanuli Tengah, Marino mengatakan, sejauh ini belum ada pelaporan tanaman pangan yang terdampak, mengingat kondisi yang belum memungkinkan untuk melakukan pendataan. * (junita sianturi)