SuaraTani.com - Medan| Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bekerja sama dengan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) menggelar “Forum Nasional Kelapa Sawit: Pelepasan Serangga Penyerbuk Asal Tanzania – Menuju Generasi Baru Kelapa Sawit Indonesia.”
Kegiatan tersebut akan berlangsung besok, Kamis (9/4/2026) di Kantor Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Unit Marihat, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara (Sumut).
Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah, lembaga penelitian, assosiasi profesi, dan para pemangku kepentingan industri kelapa sawit nasional.
Media Relations GAPKI, Mochamad Husni mengatakan, forum nasional ini tidak hanya menjadi seremoni pelepasan serangga penyerbuk, tetapi juga menjadi ruang dialog strategis untuk memperkuat kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan lembaga penelitian dalam mengembangkan inovasi berbasis sumber daya genetik dan ekologi penyerbukan.
"Melalui forum ini diharapkan terbangun komitmen bersama untuk memperkuat fondasi biologis industri kelapa sawit Indonesia serta mendorong lahirnya generasi baru kelapa sawit yang lebih produktif, adaptif, dan berkelanjutan," kata Husni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (8/4/2026) di Medan.
Dikatakannya, industri kelapa sawit salah satu pilar strategis perekonomian Indonesia yang memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara, pembangunan wilayah, serta penyerapan tenaga kerja.
Dengan luas areal lebih dari 15 juta hektare dan produksi minyak sawit mentah (CPO) sekitar 48 juta ton per tahun, Indonesia saat ini menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia sekaligus penopang utama pasokan minyak nabati global.
Dalam konteks tersebut, peningkatan produktivitas dan keberlanjutan industri kelapa sawit menjadi agenda strategis nasional yang harus terus diperkuat melalui inovasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keberhasilan produksi kelapa sawit sangat ditentukan oleh efektivitas sistem penyerbukan alami. Serangga penyerbuk memiliki peranan penting dalam menentukan keberhasilan pembentukan buah (fruit set) yang secara langsung mempengaruhi produktivitas tandan kelapa sawit.
Dalam sejarah industri kelapa sawit Indonesia, introduksi serangga penyerbuk Elaeidobius kamerunicus pada tahun 1982 menjadi salah satu tonggak penting yang secara signifikan meningkatkan efisiensi penyerbukan dan produktivitas kelapa sawit nasional.
"Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa inovasi biologis memiliki peran krusial dalam mendukung peningkatan produktivitas industri kelapa sawit," jelas Husni.
Dalam rangka memperkuat sistem penyerbukan alami serta meningkatkan ketahanan agroekosistem kelapa sawit di masa depan, telah dilakukan kegiatan eksplorasi dan introduksi serangga penyerbuk kelapa sawit asal Tanzania.
"Ada tiga spesies yang terpilih yakni Elaeidobius subvittatus, E. kamerunicus dan E. plagiatus," sebutnya
Serangga penyerbuk tersebut kata Husni, telah melalui proses pengujian karantina meliputi uji kemurnian, keefektifan dan keamanan hayati (preferensi inang dan kompetisi) di Insektarium PPKS Unit Marihat, Simalungun.
"Hasil pengujia karantina ketiga jenis serangga penyernuk tersebut dinyatakan bukan sebagai spesies invasif sehingga aman untuk dikembangkan lebih lanjut dalam ekosistem perkebunan kelapa sawit Indonesia," terang Husnis
Dikatakannya, momentum pelepasan serangga penyerbuk asal Tanzania ini memiliki arti penting bagi penguatan fondasi biologis industri kelapa sawit nasional.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi Langkah strategis dalam memperkaya basis genetik dan memperkuat sistem penyerbukan kelapa sawit, tetapi juga simbol kesinambungan inovasi industri kelapa sawit yang telah berlangsung lebih dari empat dekade sejak introduksi serangga penyerbuk pada tahun 1982. * (junita sianturi)


