SuaraTani.com - Jakarta| Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Perum Bulog mulai mendistribusikan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan pada 9 Mei 2026.
Pendistribusian SPHP jagung pakan tersebut diharapkan dapat meringankan biaya produksi peternak unggas di Magetan, Jawa Timur.
Diketahui harga jagung pakan selama ini diperoleh peternak unggas di Magetan berada di kisaran Rp6.600 per kilogram (kg) dengan kadar air 16 sampai 17 persen.
Sementara, stok jagung di Bulog Gulun Magetan untuk pelaksanaan program SPHP punya kualitas lebih baik dengan kadar air 12 sampai 14 persen dan dibanderol lebih murah maksimal Rp5.500 per kg di tingkat peternak.
Pendistribusian program SPHP jagung pakan perdana ini berawal dari Purchase Order (PO) sebanyak 250 ton oleh 2 koperasi peternak yang ada di Magetan.
PO 250 ton tersebut diinput ke platform Klik SPHP Jagung pada Jumat (8/5/2026). Adapun total alokasi SPHP jagung pakan untuk Magetan sebesar 7.900 ton dan dapat diakses peternak sampai akhir tahun ini.
"Alhamdulillah hari ini proses penyaluran jagung SPHP perdana secara nasional dimulai di Magetan. Setelah diskusi dengan peternak dan Bulog, pembelian jagung pemerintah melalui Perum Bulog sudah bisa berjalan dan diperuntukkan bagi peternak layer, peternak mandiri, mikro, kecil, maupun menengah," kata Direktur SPHP Bapanas Maino Dwi Hartono dalam siaran pers, Senin (11/5/2026) di Jakarta.
Maino memastikan harga jagung pakan di peternak dari program SPHP tidak akan melebihi Rp5.500 per kg. Asosiasi atau koperasi peternak yang melakukan PO telah terdaftar dalam sistem Klik SPHP Jagung yang Bulog kelola, sehingga pengawasan dapat lebih mudah.
"Tidak boleh lebih dari Rp5.500. Harapannya ini bisa sedikit mengurangi beban peternak karena saat ini harga telur turun, sementara biaya pakan masih cukup tinggi," ungkap Maino.
Dalam laporan yang diterima Bapanas, harga telur ayam ras di tingkat peternak di Magetan memang berada dibawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Rp26.500 per kg.
Per 8 Mei, harga telur peternak di Magetan disebutkan berada di Rp 19.000 sampai Rp 21.000 per kg. Ini juga selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan telur ayam ras di April 2026 mengalami deflasi secara bulanan cukup dalam hingga 4,29 persen.
Sementara di Maret 2026 masih menorehkan inflasi 2,34 persen. Deflasi telur ayam ras yang terdalam tercatat pernah pada April 2024 di 5,80 persen dan April 2025 di 4,13 persen.
"Produksi telur Magetan sangat membantu ketahanan pangan untuk wilayah lain. Oleh karena itu, stabilitas harga di tingkat peternak maupun konsumen perlu dijaga bersama," ucap Maino.
Guna mengatasi depresiasi harga telur tersebut, Bapanas telah menyampaikan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada dapat lebih meningkatkan penyerapan telur dibeli langsung dari peternak.
Selain itu, Bapanas mempersiapkan program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) agar dapat terjadi distribusi telur yang surplus ke daerah yang masih mengalami defisit stok telur.
Bupati Magetan Nanik Endang Rusminiarti saat pelepasan itu mengapresiasin kolaborasi cepat Bapanas dan Bulog untuk mengatasi kendala yang dialami peternak unggas di wilayahnya.
"Pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada Bapanas dan Bulog atas kontribusinya dalam mengatasi persoalan pakan ternak di Magetan. Penyaluran jagung ini diharapkan membantu menjaga keberlangsungan usaha peternak," ujar Bupati Nanik.
Adapun dalam pantauan Bapanas, Pemkab Magetan telah mengkoordinasikan agar SPPG dapat mengambil pasokan telur langsung dari peternak dengan harga Rp26.500 per kg. Kemudian menu MBG pun didorong untuk menggunakan telur dua sampai tiga kali dalam seminggu. * (wulandari)


