SuaraTani.com - Jakarta| Pemanfaatan teknologi nuklir harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan mendukung program strategis pemerintah. Salah satu pemanfaatan tersebut dengan pengembangan teknologi iradiasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
“Yang dihitung negara bukan hanya publikasi ilmiah, melainkan juga bagaimana hasil riset itu bisa diimplementasikan dan memberikan manfaat nyata," kata Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, dalam siaran pers, Jumat (8/5/2026) di Jakarta,
Sebelumnya, BRIN menerima kunjungan Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) ke fasilitas Akselerator Elektron Energi Tinggi (AEET) di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) G.A. Siwabessy, Kamis (7/5/2026).
Kunjungan itu merupakan bagian dari tidak lanjut kolaborasi BRIN dan BULOG dalam pemanfaatan teknologi iradiasi berbasis berkas elektron untuk menjaga mutu dan memperpanjang umur simpan beras dalam penyimpanan jangka panjang.
Dalam kunjungan tersebut, tim dari Bulog meninjau fasilitas AEET BRIN serta berdiskusi mengenai potensi implementasi teknologi iradiasi dalam sistem logistik pangan nasional.
BRIN kata dia, siap menjadi mitra strategis dalam pengembangan teknologi iradiasi pangan, mulai dari aspek riset, pengujian, hingga implementasi teknologi di lapangan.
"BRIN siap mendukung program pemerintah, khususnya terkait ketahanan pangan, stabilitas pasokan, dan penguatan sistem distribusi logistik nasional,” ujar Syaiful.
Menurutnya, fasilitas AEET dapat menjadi salah satu solusi untuk menjaga kualitas komoditas pangan nasional secara lebih efektif dan efisien.
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan apresiasinya terhadap teknologi dan fasilitas yang dimiliki BRIN.
Dikatakannya, teknologi iradiasi dapat menjawab berbagai keraguan terkait kualitas beras dalam penyimpanan jangka panjang.
“Selama ini pertanyaan yang selalu muncul adalah usia beras dan kualitasnya setelah disimpan lama. Dengan teknologi ini, diharapkan tidak ada lagi keraguan mengenai penurunan mutu beras, karena proses iradiasi dapat menjaga kualitasnya dengan lebih baik,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa implementasi teknologi tersebut perlu melalui proses uji coba dan dokumentasi yang komprehensif agar memiliki dasar ilmiah dan legal yang kuat sebelum diterapkan secara luas.
Untuk itu, semua proses harus terdokumentasi dengan baik sehingga publik nasional maupun internasional yakin bahwa teknologi ini aman, sehat, dan tidak berdampak negatif bagi manusia.
Ahmad Rizal juga mendorong pengembangan fasilitas iradiasi di berbagai wilayah Indonesia guna mendukung distribusi pangan nasional.
“Harapannya fasilitas seperti ini tidak hanya ada di satu lokasi. Minimal ada di Indonesia Barat, Tengah, dan Timur sehingga produk pangan yang didistribusikan, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor, telah melalui proses pengendalian mutu yang baik,” katanya.
Ia menyampaikan visi Bulog untuk menjadi orkestrator logistik nasional dan internasional dengan dukungan teknologi modern dan sistem pengendalian mutu yang terstandarisasi secara global.
Menurutnya, potensi komoditas Indonesia sangat besar dan perlu didukung dengan teknologi yang mampu menjaga kualitas produk hingga ke pasar internasional.
Dalam diskusi di kunjungan tersebut juga dibahas rencana tindak lanjut kerja sama antara BRIN dan Bulog, termasuk penyusunan Perjanjian Kerja Sama (PKS), pengembangan proyek percontohan, serta pemanfaatan fasilitas AEET sebagai pusat riset dan implementasi teknologi iradiasi pangan.
Syaiful menegaskan bahwa BRIN akan terus mendukung pengembangan teknologi nuklir untuk sektor non-energi, khususnya di bidang pangan dan industri.
Menurutnya, dukungan tersebut penting agar hasil riset dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap teknologi iradiasi dapat menjadi bagian dari solusi nasional dalam menjaga kualitas pangan, memperkuat rantai pasok, dan meningkatkan daya saing produk Indonesia,” ujarnya. * (junita sianturi)


