Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

US FDA Tinjau Laboratorium BRIN yang Menganalis Cs-137 Produk Ekspor ke AS

BRIN menerima delegasi US Food and Drug Administration (US FDA) dalam rangka in-country visit. foto: ist

SuaraTani.com - Tangerang Selatan| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerima delegasi US Food and Drug Administration (US FDA) dalam rangka in-country visit. 

Kunjungan ini bertujuan meninjau dan memverifikasi laboratorium yang melakukan analisis Cesium-137 (Cs-137) terhadap produk ekspor ke Amerika Serikat (AS). 

Kepala Pusat Riset Teknologi Analisis Bahan Nuklir (PRTABN) BRIN, Abu Khalid Rivai, mengatakan delegasi ini akan melihat langsung proses pengujian dan memberikan umpan balik bagi BRIN untuk dapat terus melakukan perbaikan.

“Mereka juga ingin mengetahui SOP yang diterapkan di Indonesia serta keterkaitannya dengan standar internasional seperti International Organization for Standardization. Mereka juga meninjau alur analisis, mulai dari permintaan pengujian hingga penerbitan sertifikat hasil uji,” ujarnya dalam siaran pers, di Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (5/5/2026).

Kunjungan para ahli dari US FDA menjadi kesempatan bagi BRIN untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas laboratorium pengujian kontaminasi. 

Abu mengatakan, BRIN akan mendapatkan asistensi langsung terkait standar yang diterapkan, sekaligus berdiskusi dan melakukan cross-check bersama para ahli dari AS. Hal ini diharapkan dapat memperkuat kualitas pengujian serta kesesuaiannya dengan standar internasional.

Ia juga menekankan bahwa kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat kepercayaan antara Indonesia dan Amerika Serikat sebagai negara pengekspor dan penerima produk.

Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran (DPFK) BRIN, R Mohammad Subekti, berharap kunjungan ke laboratorium teknologi iradiasi ini dapat berjalan lancar serta menjaga kepercayaan AS terhadap produk ekspor Indonesia agar tetap dinilai aman dan bebas dari kontaminasi.

“Jika Amerika percaya, negara lain juga akan ikut percaya terhadap produk ekspor Indonesia, karena Amerika menerapkan standar yang sangat ketat,” ujarnya.

Ia mengatakan, laboratorium ini merupakan laboratorium yang ditunjuk oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk pengukuran radioaktivitas dalam produk pangan. 

Kegiatan ini dikelola melalui kerja sama antara BAPETEN, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan BRIN. Dalam hal ini, BRIN berperan sebagai operator laboratorium, BAPETEN bertanggung jawab pada pengawasan radiasi, dan BPOM menangani aspek keamanan pangan.

Sementara itu, Peneliti Kimia dari US FDA, Scott, menyampaikan bahwa pihaknya akan meninjau aktivitas laboratorium yang terkait dengan lembaga sertifikasi Mutual Foreign Quality Assurance (MFQA) serta BPOM dalam pengujian kontaminasi Cs-137.

“Kunjungan ini bertujuan untuk memperkuat kolaborasi dalam menangani kontaminasi Cesium-137 serta memastikan keamanan produk pangan yang masuk ke pasar Amerika Serikat,” jelasnya.

Scott berharap, dengan kunjungan ini pihaknya dapat mempelajari proses yang dilakukan BRIN terkait lembaga sertifikasi serta memahami secara mendalam standar dan prosedur yang diterapkan di laboratorium. 

Ia juga berharap kunjungan dapat menjalin hubungan yang baik dengan para kolega. * (junita sianturi)