SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat pengembangan inovasi berbasis riset untuk menghadapi ancaman penyakit Ganoderma pada perkebunan kelapa sawit nasional.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN Puji Lestari menegaskan, kelapa sawit masih menjadi komoditas strategis nasional yang menopang aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Sektor sawit saat ini menjadi sumber penghidupan bagi lebih dari 16,2 juta keluarga di Indonesia, sehingga keberlanjutan produksinya harus terus dijaga melalui penguatan riset dan inovasi,” kata Puji dalam siaran pers, Kamis (4/6/2026) di Cibinong.
Menurutnya, penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense hingga saat ini masih menjadi faktor utama dalam budidaya kelapa sawit.
“Penyakit ini sulit dideteksi pada fase awal dan penyebarannya sangat masif, sehingga diperlukan solusi berbasis riset dan inovasi yang lebih efektif,” ujar Puji.
Hingga kini kata dia belum tersedia varietas kelapa sawit yang benar-benar tahan terhadap serangan Ganoderma.
Karena itu, BRIN mendorong pengembangan teknologi deteksi dini berbasis molekuler serta pemanfaatan mikroba sebagai agen pengendali hayati untuk meningkatkan efektivitas pengendalian penyakit. Sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis.
Menurut Puji, percepatan inovasi di sektor sawit tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Kita perlu menghasilkan riset yang berdampak dan memberikan solusi nyata bagi permasalahan nasional. Kolaborasi menjadi kunci untuk mempercepat pengembangan teknologi deteksi dini maupun pengelolaan penyakit yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN Setiari Marwanto, menyoroti pentingnya keberlanjutan industri sawit di tengah agenda nasional mendukung swasembada pangan dan energi.
Ia menilai peningkatan produksi crude palm oil (CPO) harus diimbangi dengan penguatan sistem mitigasi penyakit tanaman yang lebih modern dan presisi.
Keberlanjutan industri sawit nasional masih menghadapi tantangan serius, salah satunya serangan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma.
"BRIN saat ini tengah mengembangkan berbagai pendekatan riset, mulai dari pengendalian langsung patogen hingga peningkatan ketahanan tanaman sawit,” ungkapnya.
Salah satu inovasi utama yang sedang dikembangkan adalah kit deteksi Ganoderma berbasis teknologi molekuler yang risetnya dimulai sejak 2025. Riset dan inovasi untuk menciptakan kit deteksi Ganoderma sudah dimulai sejak 2025.
Ia berharap dapat membantu proses seleksi benih pada fase awal serangan Ganoderma.
“Selain pengembangan kit deteksi dini, BRIN juga telah memulai riset pemuliaan untuk memperoleh varietas kelapa sawit yang toleran terhadap Ganoderma melalui kolaborasi dengan mitra industri sejak 2024. Penguatan teknologi kultur jaringan (in vitro) juga terus dilakukan untuk meningkatkan mutu dan keseragaman benih sawit nasional,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Pascal Biotech Indonesia, Miftachul Anwar, membagikan pengalaman terkait pemanfaatan mikroba sebagai agen bioproteksi untuk mitigasi penyakit busuk pangkal batang pada ekosistem sawit berkelanjutan.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menjaga kesehatan tanah, meningkatkan ketahanan tanaman, sekaligus mendukung praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. * (junita sianturi)


