Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Jamin Kepastian Investasi, KKP Dorong Tata Kelola Laut Berbasis Sains di ISOS Tokyo

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengikuti Island States Ocean Summit (ISOS) 2026 di Tokyo, Jepang. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penerapan Sustainable Ocean Planning and Management (SOPM) sebagai standar global guna memperkuat tata kelola laut, sekaligus menjamin kepastian investasi kelautan yang berkelanjutan.

Dalam ajang Island States Ocean Summit (ISOS) 2026 di Tokyo, Jepang, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menekankan bahwa pengelolaan laut yang terukur menjadi kunci stabilitas ekonomi di tengah tekanan global. 

“Praktik penangkapan ilegal dan aktivitas destruktif semakin mengancam kesehatan laut kita. Karena itu, perlindungan laut memerlukan kerja sama global dan tanggung jawab bersama,” ujar Menteri Trenggono dalam siaran pers, Sabtu (6/6/2026) di Jakarta.

Dikatakannya, Indonesia melalui KKP menekankan pentingnya penerapan SOPM dalam tata Kelola laut. Pendekatan ini mendorong perencanaan berbasis sains yang menyeimbangkan perlindungan ekosistemdan pemanfaatan ekonomi. 

Sebagai anggota High Level Panel for a Sustainable Ocean Economy (HLP SOE), Indonesia mempromosikan penerapan SOPM sebagai standar global dalam pengelolaan wilayah laut. 

Langkah ini mencakup komitmen Indonesia dalam menginisiasi pengembangan solusi pembiayaan yang adil dan terukur guna memastikan efektivitas perencanaan serta keberlanjutan sektor kelautan dalam jangka panjang.

Menteri Trenggono juga memaparkan lima langkah strategis Indonesia untuk menjaga laut, yang meliputi perluasan kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur berbasis kuota, pengembangan budidaya yang berkelanjutan, pengelolaan pesisir, dan penanganan sampah laut. Agregat tersebut dikenal sebagai 5 Ekonomi Biru. 

Menteri Trenggono turut mengundang komunitas global untuk hadir dalam Ocean Impact Summit (OIS) 2026 yang akan diselenggarakan di Bali. 

Forum ini dirancang bukan sekadar untuk diskusi, melainkan sebagai wadah untuk memobilisasi investasi dan menghadirkan solusi konkret bagi negara-negara kepulauan.

Sebelumnya, Menteri Trenggono menekankan pentingnya kesadaran global terkait peningkatan tekanan terhadap ekosistem pesisir akibat pertambahan populasi manusia yang semakin masif, sehingga perlindungan laut tidak dapat lagi dipandang sebagai beban satu pihak saja. 

Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan laut adalah tanggung jawab kolektif seluruh bangsa di dunia, mengingat kelestarian ekosistem perairan merupakan penopang vital bagi keberlangsungan hidup seluruh umat manusia di masa depan. * (putri)