SuaraTani.com - Cibinong| Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi berbasis sumber daya hayati untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan. Salah satunya melalui pemanfaatan mikroba yang berasal dari ekosistem ekstrem sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas pertanian, mendukung konservasi lingkungan, hingga mempercepat pemulihan lahan bekas pertambangan.
Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan BRIN, Arwan Sugiharto, menjelaskan, mikroba yang hidup di lingkungan ekstrem, seperti lahan kering dan kawasan mangrove, memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi.
Karakteristik tersebut menjadikannya berpotensi dimanfaatkan sebagai agen hayati untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman pada kondisi lingkungan yang menantang.
"Melalui penelitian ini kami berupaya memanfaatkan mikroba yang berasal dari lingkungan ekstrem untuk konservasi sekaligus meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah maupun tanaman," ujar Arwan dalam siaran pers yang dikutip, Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, perubahan iklim telah menyebabkan berkurangnya cadangan air tanah, meningkatnya suhu udara, serta musim kemarau yang berlangsung lebih panjang.
Dampaknya, lahan menjadi semakin kering dan kurang produktif untuk kegiatan pertanian. Kondisi tersebut juga memengaruhi kehidupan mikroba tanah yang berperan penting dalam menyediakan unsur hara bagi tanaman.
"Ketika tanah mengalami kekeringan berkepanjangan, fungsi mikroba sebagai penyedia unsur hara ikut terganggu sehingga kesuburan tanah menurun dan tanaman sulit tumbuh optimal," jelasnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kata Arwan, tim peneliti BRIN melakukan eksplorasi mikroba yang hidup di lapisan rhizosphere, baik bakteri maupun kapang, yang mampu bertahan pada kondisi kekeringan.
Mikroba yang berhasil dikoleksi kemudian diuji untuk mengetahui berbagai potensinya. Mulai dari menghasilkan hormon pemacu pertumbuhan tanaman, menguraikan senyawa kompleks menjadi unsur hara yang mudah diserap, mendukung proses bioremediasi, hingga membentuk hubungan simbiosis dengan tanaman untuk meningkatkan penyerapan nutrisi.
BRIN juga mengembangkan bahan pembawa (carrier) yang berfungsi sebagai media hidup mikroba. Bahan ini melindungi mikroba dari tekanan lingkungan sekaligus menyediakan nutrisi agar tetap aktif setelah diaplikasikan di lapangan.
"Setelah memperoleh bahan pembawa yang sesuai, kami memformulasikannya dengan mikroba sehingga menjadi satu kesatuan yang mampu mendukung pertumbuhan mikroba sekaligus membantu pertumbuhan tanaman pada lahan yang mengalami cekaman kekeringan," kata Arwan.
Hasil penelitian tersebut telah diterapkan di sejumlah wilayah dengan karakteristik lahan kering, seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) serta Kabupaten Seririt dan Buleleng, Bali, untuk mendukung budidaya jagung melalui kerja sama dengan pemerintah daerah.
Tidak hanya pada lahan kering, BRIN juga mengembangkan pemanfaatan mikroba dari ekosistem mangrove yang memiliki tingkat salinitas tinggi.
Untuk mendukung aplikasinya, tim peneliti memanfaatkan tanaman gulma Derris trifoliata yang banyak tumbuh di kawasan mangrove sebagai bahan pembawa mikroba.
Tanaman tersebut diolah menjadi serbuk, kemudian dibentuk menjadi tablet atau pot yang mampu menjaga mikroba tetap hidup saat digunakan di lapangan.
Arwan mengungkapkan, riset ini juga diperluas pada kawasan bekas pertambangan emas di Pongkor, Sukabumi, serta wilayah pertambangan PT Freeport Indonesia di Papua.
Menurut Arwan, pemulihan lahan bekas tambang memerlukan pendekatan yang lebih kompleks karena hilangnya lapisan humus menyebabkan kesuburan tanah menurun secara signifikan.
"Tantangan terbesar dalam pengembangan mikroba fungsional di lahan bekas tambang adalah mengembalikan kesuburan tanah agar ekosistem dapat pulih kembali," pungkasnya.
Melalui pengembangan mikroba fungsional berbasis ekosistem ekstrem, BRIN menunjukkan bahwa kekayaan biodiversitas mikroba Indonesia memiliki potensi besar untuk mendukung pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim sekaligus mempercepat restorasi berbagai ekosistem yang mengalami degradasi. * (erna)

