Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Hasilkan 5 Paten, Peneliti BRIN Temukan Teknologi Pengolahan Bijih Nikel Minim Limbah

Peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN, Iwan Setiawan menemukan inovasi teknologi pengolahan bijih nikel yang lebih efisien, dan fleksibel. foto: ist 

SuaraTani.com - Tangerang Selatan| Peneliti Pusat Riset Metalurgi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Iwan Setiawan menemukan inovasi teknologi pengolahan bijih nikel yang lebih efisien, dan fleksibel. Bahkan minim limbah karena dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya secara menyeluruh. 

"Teknologi ini dapat memanfaatkan 98 persen material limbah dari bijih nikel. Inovasi tersebut juga telah menghasilkan sekitar lima paten yang berkaitan dengan proses pengolahan nikel yang dikembangkan oleh tim Pusat Riset Metalurgi BRIN," kata Iwan dalam siaran pers, Rabu (8/7/2026).

Dikatakannya, bijih nikel umumnya hanya mengandung sekitar 1–2 persen nikel. Artinya, lebih dari 98 persen material lainnya berpotensi menjadi limbah apabila tidak dimanfaatkan. 

"Karena itu, metode pengolahan apa pun harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan seluruh komponen yang terkandung di dalam bijih," jelasnya.

Menurutnya, teknologi yang saat ini banyak digunakan umumnya hanya dapat mengolah salah satu jenis bijih nikel, yaitu saprolit atau limonit. Selain itu, proses tersebut menghasilkan limbah dalam jumlah besar karena kadar nikel dalam bijih relatif rendah.

Inovasi yang dikembangkan BRIN kata Iwan, memiliki keunggulan karena dapat mengolah dua jenis bijih nikel sekaligus, yakni saprolit dan limonit, dalam satu pendekatan proses. 

Teknologi tersebut merupakan hasil modifikasi dari proses Caron yang telah disesuaikan dengan kondisi cadangan nikel Indonesia saat ini.

"Cadangan nikel terus berubah, kualitas bijih juga semakin beragam. Karena itu diperlukan teknologi baru yang lebih adaptif terhadap karakteristik bijih yang tersedia," jelasnya.

Selain mampu mengolah berbagai jenis bijih, teknologi ini juga dirancang untuk menekan konsumsi energi dibandingkan proses pirometalurgi konvensional. 

Salah satu keunggulan utamanya adalah meminimalkan limbah melalui pemanfaatan unsur-unsur lain yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Dalam proses yang dikembangkan BRIN, tidak hanya nikel yang diambil, tetapi juga besi dan magnesium yang terkandung di dalam bijih. 

Besi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah sebagai Fe2O3 untuk pigmen atau sebagai besi oksalat untuk bahan baku baterai, sedangkan magnesium diproses menjadi senyawa yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri.

Dikatakannya, pendekatan tersebut sejalan dengan konsep efisiensi sumber daya dan ekonomi sirkular yang kini menjadi arah pengembangan industri mineral di berbagai negara. 

"Prinsipnya adalah tidak ada sumber daya yang terbuang. Nikel, besi, dan magnesium semuanya diupayakan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sehingga limbah dapat ditekan seminimal mungkin," kata Iwan.

Pengembangan teknologi tersebut telah dilakukan hingga skala laboratorium dan semi-pilot. Tim peneliti telah berhasil melakukan pengujian proses dalam kapasitas puluhan hingga ratusan kilogram untuk membuktikan kelayakan teknologinya. 

Meski demikian, ia mengakui bahwa tantangan berikutnya adalah pembangunan fasilitas pilot plant berskala lebih besar untuk memvalidasi aspek teknis dan keekonomian sebelum teknologi dapat diimplementasikan di sektor industri.

"Pada skala laboratorium hasilnya sudah sangat baik. Tahap berikutnya adalah meningkatkan skala proses melalui pilot plant sehingga dapat dibuktikan kelayakan ekonominya untuk kebutuhan industri," ungkapnya.

Sebagai negara dengan sumber daya mineral yang melimpah, Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan teknologi pengolahan mineral hasil riset dalam negeri. 

Menurut Iwan, riset metalurgi memiliki peran strategis dalam mendukung kemandirian industri nasional, tidak hanya pada komoditas nikel, tetapi juga logam strategis lainnya seperti titanium, logam tanah jarang, hingga kelompok logam platina.

"Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkan teknologi agar sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal dan memberikan nilai tambah bagi industri nasional," tutupnya. * (junita sianturi)