Grafik emiten di bursa efek. Di tengah anomali geopolitik, IHSG masih mampu ditutup menguat. suaratani.com-ist Inflasi dikhawatirkan akan mendorong kenaikan suku bunga acuan di banyak negara. Kenaikan suku bunga acuan tersebut nantinya akan memicu tekanan di pasar keuangan.
Analis Keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan, bursa saham di Eropa maupun Asia selama perdagangan pekan ini mengalami tekanan yang cukup besar. Tetapi kinerja IHSG justru masih mampu bertahan di zona hijau dengan ditutup menguat 0,67% di level 7.262,77.
“Meski tak jarang masuk dalam zona merah,” sebut Gunawan di Medan, Rabu (13/4/2022).
Disisi lain kata Gunawan, kinerja mata uang Rupiah juga terpantau stabil. Pada perdagangan sore ini kinerja mata uang Rupiah di transaksikan di kisaran level 14.353 per US Dolar.Tekanan eksternal dimana banyak kinerja bursa saham yang mengalami tekanan, termasuk juga mata uang nya. Rupiah dan IHSG sampai sejauh ini justru masih mampu bertahan dari tekanan tersebut.
“Pasar keuangan nasional bergerak anomali sekalipun dibayangi sejumlah sentimen buruk eksternal,” terangnya.
Sementara itu, terkait dengan perang yang belum berkesudahan, Korea Utara yang berencana meluncurkan rudal nuklirnya, hingga kemungkinan masuknya Swedia dan Finlandia ke dalam blok NATO membuat pelaku pasar kian mengkhawatirkan kemungkinan memanasnya hubungan geopolitik di banyak negara.
Hal ini tersebut memicu terjadinya kenaikan pada harga emas dunia, dimana harga emas dunia saat ini ditransaksikan dikisaran level $1.970 per ons troynya. Kalau dikonversikan ke Rupiah, harga emas berada di kisaran harga Rp912 ribu per gram. Tentunya kalau di butik atau toko emas, harga emas sudah kembali tembus Rp1 juta per gram. *(ika)

