Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Resesi Ekonomi Global Mengancam

Pemerhati ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin.suaratani.com-dok 

SuaraTani.com – Medan| Tren inflasi dunia belakangan ini naik secara mengejutkan, seiring dengan tren kenaikan harga energi dunia dan harga pangan yang menyeret masalah baru yakni pengendalian kebijakan moneter maupun fiskal di banyak negara menghadapi kendala yang tidak biasa. 

Terlebh untuk kebijakan dari sisi moneter yang dikendalikan Bank Indonesia atau BI, masalahnya rumit karena harus turut memperhitungkan kebijakan moneter yang diambil negara lainnya, khususnya negara besar seperti AS.

Pemerhati ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan,perang membuat pengambilan keputusan menjadi serba sulit. Saat ini tren kenaikan laju tekanan inflasi bukan hanya dikarenakan adanya pemulihan yang mendorong demand atau permintaan, tetapi ada gangguan produksi akibat perang.

“Sementara inflasi yang naik di AS akan direspon dengan kebijakan menaikkan suku bunga acuan lanjutan, dimana AS sendiri berpeluang masuk dalam jurang resesi, dan berpeluang menyeret negara lain masuk dalam jurang resesi juga,” ujar Gunawan di Medan, Rabu (13/4/2022).

Sejauh ini kata Gunawan, Bank Indonesia (BI) masih belum menaikkan bunga acuan, dan kebijakan BI juga tidak memberikan tekanan pada IHSG dan Rupiah. 

“Hanya saja kita tidak bisa bersandar sepenuhnya bahwa BI akan tetap diam saja. Jadi saya memperkirakan cepat atau lambat, atau semakin agresif Bank Sentral AS menaikkan bunga acuan, BI pada akhirnya nanti akan menentukan sikap,” sebutnya.

Yang jadi persoalan kata Gunawan, kalau Bank Sentral AS sudah menaikkan bunga acuan, maka tren suku bunga acuan global naik. Bunga pinjaman menjadi lebih mahal, yang tentunya akan mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Jika BI pada akhirnya juga mengambil kebijakan yang sama, pertumbuhan ekonomi terpaksa di rem dengan kenaikan bunga acuan.

Maka, pemulihan ekonomi terpaksa melambat, sementara pemulihan belum terjdi sepenuhnya karena pandemi Covid 19. Jadi perang ditambah dengan kebijakan moneter ketat memicu terjadinya resesi. 

“Inflasi yang sulit untuk diturunkan, sementara disisi lain pertumbuhan ekonomi yang berakselerasi justru memicu terjadi inflasi. Lingkaran setannya ada disitu, dan ini bukan kondisi yang biasa,” tambahnya.

Khusus untuk Sumut, Gunawan menyebutkan akan terpengaruh menyusul kenaikan harga energi akibat perang bisa mendorong  kenaikan harga CPO di kisaran angka RM6000  per tonnya. Di era sebelum tahun 97, saat itu harga CPO sempat bertengger dkisaran RM1100  per ton. Namun saat terjadi krisis 97/98 harga CPO sempat meroket menyentuh RM2500  per ton.

Kondisi ini berpeluang terulang seandainya jika perang tidak bisa berakhir, dan resesi global yang dikuatirkan benar benar terjadi nantinya. 

“Maka Sumut di satu sisi akan diuntungkan dengan harga CPO yang mahal, sementara disisi lain mengalami masalah karena terjadi resesi. Setidaknya sawit masih akan menjadi bumper bagi perekonomian Sumut dari tekanan ekonomi global,” pungkasnya. *(ika)