Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

BI Masih Tahan Bunga Acuan, Sentimen Pasar Kian Sulit Dikendalikan

Analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin.suaratani.com-ist 


SuaraTani.com – Medan| Bank Indonesia masih menahan besaran bunga acuan di level 3.5%. Sesaat setelah kebijakan tersebut dibuat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengurangi pelemahannya, sementara mata uang rupiah terpantau mengalami pelemahan. Rupiah diperdagangkan dikisaran 15.034 per US Dolar, sementara IHSG justru hanya ditutup melemah 0.15% di level 6.864,13.

Analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, mengatakan, kebijakan Bank Indonesia (BI) memang pada dasarnya akan membuat pertumbuhan ekonomi terjaga, namun ada sisi lain yang mengancam, yakni kemungkinan kenaikan bunga acuan The FED yang akan diambil pada pekan depan. Ekspektasi tersebut perlu dipelihara, mengingat sangat berpeluang menekan kinerja mata uang rupiah maupun IHSG.

“Yang perlu diwaspadai adalah potensi inflasi akibat pelemahan mata uang rupiah,” kata Gunawan di Medan, Kamis (21/7/2022). 

Sementara itu, kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan tanah air seperti mineral tambang dan minyak nabati memang masih berpeluang menyumbang devisa. Dimana devisa tersebut yang nantinya bisa diperuntukan untuk menahan laju pelemahan mata uang rupiah.

Untuk itu pelaku pasar akan lebih berhati hati lagi serta mewaspadai kemungkinan terjadinya tekanan lanjutan. Karena setelah BI mempertahankan besaran bunga acuan, tekanan di pasar keuangan akan berlanjut. Terlebih di pekan depan Bank Sentral AS diperkirakan akan menaikkan besaran bunga acuannya.

“Sejauh ini, saya melihat tekanan di pasar keuangan akan membesar di pekan depan. Meskipun Rupiah yang di 15 ribuan per US Dolar menurut hemat saya masih dalam posisi yang aman, namun sentimen pasar kedepan semakin sulit untuk dikendalikan. Terlebih sentimen eksternal yang dipicu oleh kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS,” katanya. 

Di sisi lain, bukan hanya rupiah dan IHSG yang berada di bawah tekanan. Harga emas dunia juga terpantau turun dan diperdagangkan di bawah level psikologis US$1.700 per ons troynya. Harga emas saat ini terpuruk di level $1.685 per ons troy, yang berarti dengan beberapa kemungkinan besar kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS, harga emas masih dalam tren turun atau bearish.

Harga emas saat ini ditransaksikan di kisaran level Rp817 ribu per gramnya. Dengan ekspektasi beberapa kali lagi kenaikan bunga acuan The FED hingga tahun 2023, maka emas berpotensi untuk terus melemah kedepan. Ini bukan kabar baik bagi investor emas. *(ika)