Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Genap 50 Tahun, Petrokimia Gresik Siapkan Enam Strategis Ekspansi Bisnis

Pabrik Amoniak - Urea II PT Petrokimia Gresik. suaratani.com - ist

SuaraTani.com – Gresik| Petrokimia Gresik menyiapkan enam strategi ekspansi bisnis sebagai upaya untuk menjaga sustainability perusahaan, kemajuan pertanian, serta memperkuat industri kimia nasional. 

Direktur Utama Petrokimia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo, menjelaskan, Petrokimia Gresik yang pada awal berdirinya hanya memiliki pabrik Amoniak-Urea dan ZA, kini telah bertransformasi menjadi perusahaan Solusi Agroindustri yang memproduksi varian pupuk terlengkap di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. 

“Meski demikian, kita tidak boleh berpuas diri, karena tantangan dan perubahan adalah hal yang mutlak. Karena itu, Petrokimia Gresik membutuhkan inovasi dan transformasi yang luar biasa untuk memenangkan masa depan,” ujar Dwi Satriyo dalam peringatan HUT ke-50  Petrokimia Gresik di SOR Tri Dharma, Gresik, Jawa  Timur (Jatim), awal pekan kemarin. 

Dalam hal ini, Petrokimia Gresik telah menyiapkan   sejumlah strategi untuk melakukan ekspansi bisnis tidak sebatas menjadi perusahaan solusi agroindustri saja, tetapi juga centra petrochemical industry di masa mendatang. 

Hal ini sesuai dengan tema yang diusung dalam HUT tahun ini, yakni “Beyond Infinity”, yang dapat diartikan sebagai semangat untuk terus melampaui batas-batas yang ada. 

Salah satu tantangan yang kini tengah dihadapi Petrokimia Gresik adalah dampak perang di kawasan Eropa yang mempengaruhi harga dan pasokan bahan baku pupuk di pasar global. Khususnya phosphate dan kalium yang merupakan bahan baku NPK dan tidak tersedia di tanah air. 

Seperti diketahui, Petrokimia Gresik merupakan produsen pupuk majemuk terbesar di Indonesia dengan kapasitas   produksi mencapai 2,7 juta ton per tahun, sehingga membutuhkan pasokan kedua bahan baku tersebut dalam jumlah yang besar.

Sehingga, strategi pertama yang dicanangkan untuk  menjaga pasokan NPK di Indonesia adalah dengan   menjajaki pembangunan pabrik NPK di Yordania.   Langkah ini dilakukan bersama holding Pupuk   Indonesia, untuk mendekatkan pabrik NPK Petrokimia Gresik dengan sumber bahan baku, sehingga diharapka dapat mengefisienkan biaya produksinya. 

Strategi kedua dan ketiga adalah peningkatan produktivitas NPK nasional dengan melakukan konversi pabrik, dari pabrik pupuk Fosfat menjadi pabrik NPK Phonska V, serta mempersiapkan pendirian pabrik baru NPK Phonska VI. 

“Ketiga langkah strategis tersebut tidak hanya akan   mengamankan produktivitas NPK nasional, tapi juga memperkuat posisi Petrokimia Gresik sebagai produsen NPK terbesar di Indonesia, bahkan Asia. Sehingga kesempatan untuk ekspansi pasar internasional semakin terbuka lebar, tentunya setelah memenuhi kebutuhan   pupuk di dalam negeri,” jelas Dwi Satriyo. 

Keempat, struktur bisnis perusahaan yang erat kaitannya   dengan bahan baku gas juga menjadi perhatian Petrokimia Gresik, dimana perusahaan akan melakukan penjajakan untuk mendapatkan suplai gas baru dari   Utara Pulau Jawa.   

Pasokan gas ini rencananya akan dimanfaatkan untuk pengembangan pabrik Amoniak-Urea (Amurea) III atau pengembangan lainnya. 

“Jika Petrokimia Gresik berhasil memperoleh pasokan   gas yang baru, perusahaan dapat meningkatkan produktivitas pupuk Urea melalui pengembangan pabrik Amurea III. Sehingga ke depan kita tidak hanya menjadi leader di pasar NPK, tapi juga Urea,” ujarnya. 

Strategi Petrokimia Gresik yang  kelima,  tidak  hanya   berfokus pada peningkatan produksi pupuk saja, tapi   juga mendorong kemajuan industri kimia nasional.   Diantaranya pembangunan pabrik Soda Ash berkapasitas 300.000 ton per tahun, dengan memanfaatkan produk   hilir dari pabrik Amoniak-Urea berupa CO2 yang diolah   menjadi bahan baku pembuatan Soda Ash. 

“Nantinya ini akan menjadi produk Soda Ash pertama buatan dalam negeri untuk membantu mengurangi ketergantungan impor Soda Ash yang mencapai 1 juta ton per tahun,” jelas Dwi Satriyo.

Seperti diketahui, kebutuhan Soda Ash nasional sangat tinggi sebagai tumpuan bahan baku berbagai produk yang banyak ditemui sehari-hari, seperti sabun, deterjen, kertas, tekstil, keramik, gelas, kaca dan lain sebagainya. 

Strategi keenam, yakni upaya Petrokimia Gresik melakukan scale up pabrik Green Surfactant. Produk ini mendapatkan sambutan baik dari industri minyak dan gas setelah pertama kali dipasarkan pada tahun 2021 kemarin. 

Green Surfactant Petrokimia Gresik, lagi-lagi menjadi produk surfaktan pertama buatan dalam negeri yang dapat menggantikan penggunaan surfaktan berbasis hydrocarbon, sehingga lebih ramah lingkungan. 

Produk ini berfungsi untuk meningkatkan produktivitas sumur minyak bumi, bahkan mampu mengeluarkan minyak mentah dari lapangan atau sumur minyak tua yang    sudah tidak berproduksi lagi. 

“Ini membuktikan bahwa Petrokimia Gresik tidak hanya unggul dalam  ke-pioneer-an produk pupuk saja, tetapi   juga produk lainnya yang dapat memperkuat struktur   industri kimia nasional. Inilah kira-kira yang akan menjadi arah masa depan Petrokimia Gresik,” ujar Dwi Satriyo.

Luncurkan Rumah Transformasi

Dwi Satriyo juga menjelaskan, keunggulan Petrokimia Gresik sebagai pioneer dalam menciptakan berbagai hal baru  dapat terwujud berkat DNA  inovasi dan transformasi yang dimiliki setiap insan di perusahaan.

Karena itu, untuk mewadahi ide-ide atau gagasan tersebut, Petrokimia Gresik sekaligus meresmikan Rumah Transformasi di kawasan SOR Tri Dharma pada momen peringatan HUT kemarin. 

“Rumah Transformasi ini dihadirkan untuk memaksimalkan ide dan menggali gagasan yang lebih besar lagi. Dengan demikian, tradisi inovasi yang diwariskan dari generasi Petrokimia Gresik terdahulu   bisa terus terjaga sebagai modal bagi perusahaan untuk   terus bertransformasi di era-era mendatang,” pungkasnya. * (junita sianturi)