Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Pasar Keuangan Berfluktuasi Cukup Tajam di Pekan Ini

Grafik pergerakan emiten di IHSG. Di pekan ini, tekanan cukup berat dialami pasar keuangan domestik.suaratani.com-ist 

SuaraTani.com – Medan| Kinerja mata uang rupiah terpantau berfluktuasi dengan terus berupaya untuk menguat menuju 15.500. 

Upaya tersebut sepertinya masih terhalang dimana rupiah yang kerap  menguat dikisaran 15.550, terkadang tidak mampu bertahan lama dan kerap kembali melemah di kisaran 15.600 per US dolarnya. 

Kinerja mata uang rupiah terpantau membukukan penguatan tajam pada hari Senin dan hari ini, setelah di akhir pekan sebelumnya sempat parkir di atas 15.600 per US dolar.

Kondisi serupa menurut analis keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin juga terlihat pada  kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG). 

Di awal pekan, IHSG sempat mengalami penguatan tajam, namun selanjutnya berfluktuasi di setiap sesi perdagangan. Pasar saham sendiri masih rentan terkoreksi seiring dengan tekanan yang terus meningkat yang terjadi di banyak pasar keuangan di negara lain. 

“Di pekan ini IHSG ditutup menguat di hari Senin, namun cenderung turun setelahnya,” ujar Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (26/10/2022).

Dengan keadaan ini kata Gunawan, yang perlu diperhatikan secara lebih serius disaat tengah terjadi kekacauan pada pasar keuangan global adalah mencari tempat yang paling aman.

Dan untuk saat ini, US dolar dan emas ini masih menjadi instrumen safe haven yang saling bergantian menjadi aset tujuan.

Selain itu, juga perlu dicari tahu bagaimana aset keduanya bisa secara bergantian ataupun bersamaan menjadi aset yang diincar oleh banyak investor. Dan di situasi seperti sekarang ini, dimana terjadi kenaikan suku bunga acuan, yang mendorong sejumlah instrumen bebasis mata uang US dolar menjadi lebih menarik karena menjanjikan imbal hasil yang tinggi.

Hal ini memicu terjadinya aksi borong US dolar yang bisa memicu terjadinya banyak mata uang di banyak negara di belahan dunia ini yang berpotensi melemah terhadap US dolar, tanpa terkecuali rupiah. 

“Nah indikator apa yang bisa meminimalisir permintaan terhadap US dolar saat ini? Salah satunya adalah kinerja ekonomi di negara masing masing,” sebutnya.

Ditambahkannya, negara-negara Eropa, Inggris, dan banyak negara lainnya tengah mengalami tekanan dan terancam masuk dalam jurang resesi pada tahun 2023 mendatang. Hal ini tentunya akan memberikan tekanan pada mata uang masing masing.

“Tanpa terkecuali Indonesia meskipun diperkirakan akan selamat dari resesi tahun 2023 mendatang,” tambahnya.

Pada hari ini, mata uang rupiah menguat tajam di level 15.563 per US dolar, sedangkan IHSG terpantau melemah tipis 0.063% di level 7.043,94. Sementara itu, harga emas terpantau naik di level US$1.673 per troy ons. *(ika)