Papan penujuk kinerja IHSG. Selama sepekan kedepan, kinerja pasar keuangan berpotensi bergerak positif.suaratani.com-istSuaraTani.com – Medan| Selama sepekan kedepan, ada banyak data ekonomi penting yang akan dirilis.
Namun, testimoni yang disampaikan oleh Gubernur Bank Snetral AS Jerome Powell, di akhir pekan sebelumnya sempat memicu terjadinya tekanan di pasar keuagan. Karena Bank Sentral AS masih memberikan sinyal kenaikan bunga acuan di masa yang akan datang.
Di sisi lain menurut Analis Keuangan Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, sepekan kedepan investor akan disuguhkan ragam data ekonomi penting. Data yang paling utama adalah rilis pertumbuhan ekonomi AS dan India di kuartal kedua, serta rilis laju tekanan inflasi di tanah air untuk bulan Agustus.
“Data pertumbuhan ekonomi AS dan India diproyeksikan membaik nantinya. Ekonomi AS dikuartal kedua diprediksi membaik di kisaran level 2.4% YoY, dan ekonomi India diproyeksikan mampu tumbuh di atas 7.5% secara YoY di kuartal kedua,” kata Gunawan di Medan, Minggu (27/8/2023).
Data pertumbuhan ekonomi yang membaik tersebut menurut Gunawan akan menjadi kabar baik bagi pasar keuangan khususnya pasar saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) berpeluang membaik selama perdagangan sepekan kedepan. Walau demikian kinerjanya masih kesulitan untuk menjauh dari posisi penutupan akhir pekan sebelumnya. IHSG berpeluang bergerak di kisaran 6.850 hingga 6.970.
Untuk kinerja mata uang rupiah, bayang bayang kenaikan bunga acuan The Fed masih akan tetap menghantui pasar. Rupiah diproyeksikan menguat selama sepekan kedepan dalam rentang 15.150 hingga 15.250 per dolar Amerika Serikat.
“Tetapi yang perlu diwaspadai selama sepekan kedepan adalah rilis data inflasi di AS. Sejauh ini inflasi inti di AS diproyeksikan naik, sehingga bisa mendorong penguatan mata uang dolar Amerika dan pelemahan harga emas dunia,” katanya.
Selain peforma data ekonomi yang lebih mendukung pemguatan pasar keuangan selama sepekan kedepan, pelaku pasar perlu mewaspadai perkembangan ekonomi China yang terpuruk belakangan ini. Sektor property China sangat berpeuang menekan kinerja ekonomi global, terlebih perusahaan properti raksasa China mengalami kebangkrutan.
Di sisi lain, harga emas juga berpeluang menguat dalam rentang US$1.900 hingga US$1.930. Harga emas diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang yang terbatas, seiring dengan kekhawatiran pasar akan kenaikan bunga acuan Bank Sentral AS. *(ika)

