SuaraTani.com – Jakarta| Industri kecil dan menengah (IKM) sektor makanan dan minuman etap memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan pemberdayaan masyarakat di Indonesia, meski harus berhadapan dengan berbagai tantangan bisnis.
“Di era globalisasi ini, terdapat peluang bagi IKM makanan dan minuman Indonesia untuk memasarkan produknya di level internasional. Untuk itu, para IKM perlu mempersiapkan diri melakukan adaptasi dan berinovasi dengan membaca tren dan kebutuhan pasar, baik pasar dalam negeri maupun ekspor,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Reni Yanita, di Jakarta.
Reni mengemukakan banyak IKM makanan dan minuman yang kesulitan untuk naik kelas lantaran keterbatasan modal, manajemen yang belum profesional, belum terpenuhinya standar dan legalitas usaha, serta terbatasnya inovasi.
“Dari sisi eksternal, IKM juga dihadapkan dengan berbagai tantangan dalam menjalankan usahanyasepertiketidakpastian pasokan bahan baku, kehadiran pesaing dan produk baru, serta permintaan pasar yang sangat fluktuatif,” ungkapnya.
Reni menyampaikan, IKM makanan dan minuman Indonesia berpeluang besar untuk memasarkan produknya di pasar global, selaras dengan upaya Indonesia untuk masuk menjadi anggota The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD).
Keanggotaan Indonesia dalam OECD diharapkan dapat memperluas kerjasama dibidang industri dengan negara-negara maju di OECD.
Menghadapi tantangan sekaligus peluang bagi IKM pangan untuk memenuhi kebutuhan pasar yang mulai fokus terhadap bisnis berkelanjutan ini, Ditjen IKMA kembali menyelenggarakan program Indonesia Food Innovation (IFI)yang ke-4 kalinya.
Ditjen IKMA berupaya mendorong dan memfasilitasi para pelaku IKM makanan dan minuman untuk mendapatkan pembinaan dan pendampingan yang tepat dari para ahli di bidang bisnis maupun teknis melalui program IFI ini.
Program IFI akan menjaring peserta IKM pangan dari 2 kategori, yaitu kategori intermediate product untuk IKM pangan yang menghasilkan produk antara sebagai rantai suplai industri pangan, dan kategori end product bagi IKM pangan yang menghasilkan produk olahan pangan untuk kebutuhan konsumen akhir.
Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangun, Yedi Sabaryadi mengatakan, pihaknya akan menjaring IKM pangan yang memiliki nilai inovasi, memanfaatkan bahan baku lokal, dan memiliki produk yang potensial untuk dikomersilkan atau sesuai dengan kebutuhan pasar.
Pendaftaran IFI dimulai sejak 8 Agustus hingga 21 September 2023, dan para pendaftar akan dikurasi oleh Ditjen IKMA dan para tenaga ahli.
Selanjutnya, 40 IKM pendaftar yang lolos kurasi akan mengikuti Food Camp IFI selama kurang lebih satu bulan. Para penilai akan menentukan masing-masing tiga peserta terbaik dari tiap kategori setelah melewati proses food camp.
“Sementara itu, pada tahun 2022, Ditjen IKMA mencatat terdapat 2.091 pendaftar yang ikut dalam seleksi program IFI dan terpilih 20 peserta untuk mendapatkan pembinaan dalam tahapan food business scale-up melalui coaching, mentoring dan fasilitasi pada tiga aspekyaitu management, legal aspects, dan networking,” ungkap Yedi.
Para pemenang IFI tahun ini akan diprioritaskan untuk mengikuti program akselerasi lanjutan pengembangan bisnis melalui coaching dan mentoring eksklusif untuk scaling up usaha, serta memperoleh fasilitasi sertifikasi HACCP atau sertifikasi lain untuk peningkatan daya saing.
Pemenang juga akan diikutsertakan oleh Ditjen IKMA untuk mengikuti pameran, temu bisnis, dan fasilitasi membership e-commerce global. *(jasmin)


