SuaraTani.com - Jakarta| Kondisi geopolitik yang terjadi di Timur Tengah berdampak pada aktivitas ekspor perikanan Indonesia.
Berdasarkan data, ekspor ikan saat ini dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu (2025) mengalami penurunan volume sebesar 41,35% yang berdampak pada penurunan nilai ekspor sebesar 21,71%.
Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan, Ishartini mengatakan, untuk demand produk perikanan Indonesia saat ini relatif masih stabil, indikasinya dari permohonan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) yang terus dilayani.
"Hanya saja dari sisi volume memang agak terkendala karena transportasi dalam rantai pasok terkena imbas eskalasi. Misalnya perubahan rute shipment, biaya tambahan logistik, kontainer dan mother vessel yang terbatas yang semuanya itu juga berkontribusi dalam menaikkan harga produk,” terang Ishartini dalam siaran pers yang dikutip, Rabu (25/3/2026) di Jakarta.
Dikatakannya, KKP tidak menutup mata terhadap perkembangan situasi global tersebut. Komunikasi intens dilakukan terhadap otoritas di negara mitra, maupun dengan stakeholder di Indonesia.
Terkait jumlah ekspor sektor perikanan, Ishartini mengatakan, KKP mencatat sejak awal tahun sampai menjelang Lebaran nilai ekspor perikanan mencapai USD 983.147.052,32 atau sekitar Rp16,7 triliun.
"Sampai dengan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret lalu, sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp16,7 triliun,” ujar Ishartini.
Ia mengatakan, jumlah tersebut didapat berdasarkan data penerbitan SMKHP yang diterima oleh otoritas negara tujuan ekspor.
Sertifikat itu menjadi syarat pemenuhan standar keamanan pangan di 140 negara mitra perdagangan produk perikanan Indonesia.
Adapun sepuluh negara dengan penyerapan produk perikanan Indonesia terbesar yaitu Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Vietnam, Thailand, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Taiwan, dan Singapura. Sedangkan produk perikanan yang diperdagangkan ke berbagai negara terus mengalami diversifikasi.
Contohnya saat ini jenis produk perikanan yang diekspor telah mencapai 486 HS Code yang dapat berisi ribuan variasi type produk dengan sepuluh besar komoditas unggulan adalah udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, cakalang, kepiting, udang windu, ikan layur serta gurita.
"Hal tersebut membuktikan bahwa keberterimaan ikan Indonesia di pasar global sangat baik serta dipercaya mutu dan keamanannya,” jelas Ishartini.
Sebelumnya Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam berbagai kesempatan menegaskan, quality assurance hulu-hilir yang telah terbangun di KKP merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga keberterimaan dan menguatkan daya saing ikan Indonesia di kancah global. * (erna)


