SuaraTani.com - Jakarta| Kondisi pangan global dalam ancaman serius, akibat perang Iran–Israel dan Amerika Serikat (AS) yang membuat tekanan harga pangan dunia akan terus naik.
Sebelumnya, tekanan perang Ukraina dan Rusia juga belum reda pengaruhnya. Dua perang ini membuat “bencana” serius dalam hal keseimbangan pangan global.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono mengatakan, dunia gagal mengatur perputaran pangan global. Perang Iran, AS dan Israel membuat semakin tinggi ketidakpastian global sehingga negara produsen pangan berprinsip menahan pangan untuk mereka sendiri.
"Program MDGs gagal mengatasi kelaparan pangan global. Ada satu miliar penduduk bumi yang terancam kelaparan bahkan banyak kematian karena kelaparan global," kata Anggota Komisi IV DPR RI Riyono, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (29/3/2026).
Ia mengatakan, target SDGs ke-2 pada 2030, yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan gizi, serta mendorong pertanian berkelanjutan, tampaknya akan terancam gagal untuk kali kedua karena perubahan ekstrem peta pangan global.
Menurut Riyono, kegagalan global dalam distribusi pangan mengakibatkan harga pangan dunia naik, ketersediaan menurun, dan permintaan tinggi. Komoditas pangan berubah menjadi komoditas politik yang sering merugikan petani.
“Pangan dan energi sebagai instrumen dasar manusia berubah menjadi senjata mematikan untuk menguasai bahkan ‘menjajah’ suatu negara atas nama impor, sedangkan produsen utamanya, yaitu petani dan negaranya, masih tetap miskin dan menderita,” ujarnya.
Riyono menyampaikan tiga poin strategis mguna emastikan pangan di Indonesia aman. Pertama, Indonesia harus memfokuskan ketersediaan pangan sebagai fondasi utama kedaulatan pangan.
“Cadangan pangan berupa beras yang sudah tembus 4 juta ton harus dijaga kualitas dan manajemen pengelolaannya,” tegasnya.
Kedua, perlindungan kepada petani sebagai produsen pangan utama dengan skema insentif harga produk pertanian yang baik.
Harga GKP dan jagung yang sudah baik harus tetap dipertahankan, kalau perlu ditambah dengan asuransi hasil pertanian karena menghadapi risiko kemarau panjang.
Ketiga, menjaga politik anggaran sektor pertanian dan perikanan agar tidak dikenakan efisiensi. Riyono menegaskan anggaran pertanian sebesar Rp60 triliun jangan sampai dipotong.
Hal ini dikarenakan ketahanan pangan dan protein ada di sektor ini. Jika diperlukan, maka anggarannya harus ditambah untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.
“Ketiga langkah di atas akan mampu melindungi Indonesia dari krisis pangan. Rakyat jangan sampai mendapatkan harga pangan mahal karena imbas perang dan ketidakpastian global ini. Tugas negara hadir dan memastikan pangan sampai ke meja makan rakyat di pedesaan dan pelosok terluar bangsa ini,” tutup Riyono. * (jasmin)


