Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Serapan Beras Dalam Negeri Pecahkan Rekor, Capai 1,3 Juta Ton

Realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri telah menyentuh level yang eksponensial hingga memecahkan rekor. foto: ist

SuaraTani.com - Jakarta| Pemerintah optimis lebih siap dalam menghadapi musim kemarau di tahun 2026 ini. Stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) diperkuat dengan menyerap hasil panen dalam negeri. 

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengatakan, realisasi penyerapan setara beras dari produksi dalam negeri telah menyentuh level yang eksponensial hingga memecahkan rekor. 

Pemerintah bersama Perum Bulog pun akan terus mengakselerasi tingkat penyerapan beras, meskipun kemarau diprediksi akan dimulai April mendatang.

"Insya Allah pangan, khusus sektor pangan itu aman. Sekarang serapan kita 1,3 juta ton. Sekarang, kalau ditambah 1 bulan (April) ini 1 juta ton saja, berarti (bisa mencapai) 2,3 juta ton," ujar Amran di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Dalam catatan Bapanas, realisasi penyerapan setara beras yang bersumber dari produksi dalam negeri telah mencapai 1,39 juta ton. Pencapaian pada kuartal pertama tahun ini bahkan jauh melampaui realisasi Januari sampai Maret pada tahun-tahun sebelumnya.

Terhadap realisasi kuartal pertama tahun 2020 tercatat melesat hingga 1.442 persen karena pada Januari-Maret 2020 realisasi serap berada di level 90,1 ribu ton. 

Lalu dibandingkan pada kuartal pertama 2021 meningkat 492,5 persen. Kala itu realisasi serap Januari-Maret 2021 berada di 234,6 ribu ton.

Sementara terhadap realisasi Januari-Maret 2022 sampai 2025 masing-masing meningkat 2.071 persen, 1.374 persen, 3.871 persen, dan 93,2 persen. Ini berkaca pada realisasi serapan beras produksi dalam negeri 2022-2025 yang masing-masing tercatat 64 ribu ton, 94,3 ribu ton, 35 ribu ton, dan 719,3 ribu ton.

"Dari sisi stok, stok hari ini tertinggi yaitu 4,3 juta ton. Di bulan depan perkiraan 5 juta ton lebih, berarti aman. Jadi persiapan kita jauh lebih baik dibanding sebelumnya," ucap Amran.

Rekor realisasi serapan beras produksi dalam negeri di kuartal pertama tahun 2026 ini turut diamini oleh Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani. Dirut Rizal mengungkapkan capaian ini merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

"Penyerapannya 1,3 juta ton, Januari sampai bulan Maret ini. Itu sudah 1,3 juta ton. Itu sepanjang sejarah juga tertinggi juga. Belum pernah dalam 3 bulan sampai 1,3 juta itu belum pernah. Baru kali ini," beber Rizal.

Sebagai salah satu implikasi positifnya, terdapat transformasi ciamik di hulu yang dapat dilihat dalam data perkembangan indeks harga yang diterima petani padi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Puncak indeks tertinggi dalam 7 tahun terakhir tercatat di September 2025 dengan torehan 146,28.

Capaian tersebut jauh melampaui titik tertinggi tahunan mulai tahun 2019 yang di Desember 2019 dengan 109,22, di Maret 2020 dengan 108,82, di Januari 2021 dengan 108,19, di Desember 2022 dengan 118,65 dan di Desember 2023 dengan 137,75 serta di Februari 2024 dengan 146,08. 

Selanjutnya indeks terakhir di Februari 2026 berada di 144,84 yang juga masih lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Sementara capaian di hilir dalam bentuk inflasi khusus beras juga relatif stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, baik dalam bentuk inflasi beras secara bulanan maupun tahunan. 

Inflasi beras secara bulanan yang terakhir di Februari 2026 berada di 0,43 persen. Ini lebih rendah dibandingkan inflasi beras paling tinggi di 2024 dan 2025 yang masing-masing pernah sampai 5,28 persen di Februari 2024 dan 1,35 persen di Juli 2025. * (erna)