SuaraTani.com - Cibinong| Burung kareo padi (Amaurornis phoenicurus) dikenal sebagai burung ruak-ruak ternyata memiliki nilai ekonomi, terutama di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut).
Daging burung ini telah menjadi kuliner legendaris yang banyak diburu wisatawan dan masyarakat lokal.
Peneliti dari Pusat Riset Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widya Pintaka Bayu Putra menjelaskan penelitiannya mengenai “Potensi Burung Kareo Padi (Amaurornis Phoenicurus) untuk Produksi Daging di Indonesia”.
Ia menemukan bahwa kualitas daging burung ruak-ruak memiliki profil nutrisi yang menarik, salah satunya kandungan glutamat yaitu asam amino yang menciptakan rasa gurih pada makanan.
Tingginya kandungan asam Glutamat dan asam lemak tertentu ini menurut Widya, memberikan gambaran mengapa burung daging kareo padi memiliki cita rasa khas dan diminati secara luas sebagai bahan pangan fungsional maupun kuliner tradisional.
Peraih gelar Doktor Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan dari IPB tersebut mengatakan, dibandingkan dengan spesies avifauna lain seperti ayam, burung puyuh, pheasant, dan partridge, daging kareo padi memiliki komposisi asam lemak Palmitic dan Saturated Fatty Acid (SFA) yang paling tinggi.
"Selain itu, ditemukan juga kandungan glutamat pada daging burung Kareo padi sebesar 0,48%," kata Bayu dalam siaran pers, Selasa (12/5/2026) di Cibinong.
Dikatakannya, berdasarkan uji sampel, terdeteksi 33 jenis asam lemak. Di mana komposisi asam lemak antara lain palmitic, stearic, elaidic, dan linoleic menunjukkan angka yang sangat tinggi.
“Meski sering terlihat di sekitar manusia, burung ini memiliki karakteristik unik baik dari segi reproduksi maupun kandungan nutrisinya,” terang Bayu.
Bayu menjelaskan bahwa siklus reproduksi burung ruak-ruak ini memiliki masa berkembang biak yang cukup panjang. Masa reproduksinya atau musim kawin, terjadi antara bulan April hingga Oktober.
“Burung ini biasanya membangun sarangnya di atas pohon. Sedangkan, jumlah telur dapat menghasilkan 2 sampai 6 butir telur. Telur tersebut akan dierami selama kurang lebih 19 hingga 21 hari hingga menetas,” jelasnya.
Menurutnya, burung ruak-ruak memiliki adaptasi yang baik di daerah perairan. Habitat utamanya meliputi kawasan rawa, tepian sungai, hingga area persawahan.
Secara global, populasi burung ini tersebar luas mulai dari Asia Selatan antara lain, Pakistan, India, Maladewa, Sri Lanka, hingga Asia Timur seperti, Tiongkok Timur, Taiwan, Jepang.
Di wilayah kepulauan, sebarannya mencakup Filipina, Sunda Besar, hingga wilayah terpencil seperti Pulau Christmas dan Mikronesia.* (junita sianturi)


